Haruskah Aku Menceritakan Masa Lalu kepada Pasanganku?
Cari Berita

Advertisement

Haruskah Aku Menceritakan Masa Lalu kepada Pasanganku?

5/16/17



Masa lalu punya dua rasa utama, manis dan pahit. Rasa manis tentu bisa kita bagikan pada siapa pun sepenuh sukacita, tetapi, bagaimana dengan yang pahit? Perlukah dibagikan pada orang-orang—yang terdekat sekalipun? Atau apakah si pahit ini sebaiknya kita telan sendiri dan dibiarkan mengendap dalam jiwa?

Tobat nasuha; tutup buku dari masa kelam

Membuka diri soal masa lalu  yang dianggap kelam pada orang lain tentu tak mudah, tetapi ketika si orang lain adalah sang (calon) belahan jiwa, kepentingannya jadi berbeda. Pernikahan, sejatinya harus dibangun atas dasar kejujuran, keterbukaan, dan saling percaya. Namun, soal masa lalu yang kelam, mestikah diutarakan?

“Pada dasarnya, Islam amat mementingkan cara hidup positif sehingga tak memberi peluang seorang muslim tenggelam dalam masa lalu gelap,” jelas Ustazah Herlini Amran, MA. Seseorang yang berbuat salah, khilaf, atau dosa, dapat diampuni dengan bertobat; yaitu memohon ampun pada Allah atas salah dan khilafnya, bertekad tak mengulanginya lagi serta semakin hari hidupnya semakin diisi dengan amal saleh. “Dan tobat nasuha berarti tutup buku dari masa lalu yang kelam,” tambah Ustazah Herlini pula.

Para sahabat yang hidup sezaman dengan nabi pun tak kurang banyak yang punya masa lalu kelam yang kemudian ‘diputihkan’ dengan tobat nasuha dan tumbuhnya iman. Satu contohnya adalah hidup Umar bin Khattab yang pernah mengubur anak perempuannya hidup-hidup dan kemudian berubah menjadi seorang pejuang kebenaran sejati tanpa pernah ada seorang pun yang mempersoalkan masa lalu kelamnya.

Ustazah Herlini juga menambahkan penjelasan dengan menyitir hadis Nabi yang bicara soal pentingnya menjaga aib masa lalu yang sudah ditinggalkan dengan tobat agar tidak terbuka; “Janganlah membuka aibmu, karena Allah telah menutupnya”, juga “Barang siapa yang membuka aib saudaranya maka kelak Allah akan membuka aibnya.”

Namun demikian, Ustazah Herlini pun tidak menutup kemungkinan ada aib masa lalu yang dengan semangat ingin memunculkan kebaikan, kejujuran dan keberkahan dalam rumah tangga justru harus dibuka. Mana sajakah itu?

Soal mana yang mesti ditutup dan mana yang bisa dibuka tentu tidak bisa disamaratakan begitu saja. Yati Utoyo Lubis, MA, PhD, menyebutkan hal ini bersifat individual dan amat bergantung pada kepribadian yang punya aib  maupun kepribadian si pasangan.

Betapa tidak, soal mana saja masa lalu yang dianggap pahit dan kelam pun bisa muncul dalam rupa berbeda bagi setiap orang. Apa yang dianggap sangat pahit dan sangat kelam bagi sebagian orang mungkin masih dianggap cukup ringan oleh sebagian yang lain.

Tak heran penerimaan orang soal masa lalu kelam juga bisa jadi berbeda. Ada yang bisa ringan saja menerima pengakuan masa lalu kelam pasangan atau calon pasangan. Namun, ada pula yang begitu sensitif sehingga dapat menimbulkan keguncangan hubungan.

“Bagi seseorang misalnya, pernah mencontek ujian di masa lalu pun bisa terhitung aib memalukan bila diungkapkan, sementara bagi yang lain mungkin biasa-biasa saja,” contoh Yati.

Oleh karena itulah, psikolog yang juga Dekan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini lantas menyarankan agar keputusan untuk membuka atau tidaknya masa lalu yang dianggap kelam harus didasari pada pertimbangan-pertimbangan mendalam yang mungkin akan berbeda pada satu orang dengan orang lain.

Dampaknya bagaimana?

Dalam mempertimbangkan soal membuka aib masa lalu, pertama kali, Yati Utoyo Lubis menyarankan agar setiap orang melihat pada soal dampak yang mungkin terjadi. “Apabila dengan terungkapnya masa lalu ini dapat mengarah pada gangguan hubungan yang serius, dapat memunculkan masalah yang jauh lebih besar, saya sarankan, yang terbaik adalah tidak mengungkapkannya. Biarlah ini hanya diketahui oleh saya dan Allah."

Namun, Yati pun menambah penjelasannya bahwa masa lalu yang sebaiknya tidak diungkap ini semestinya adalah aib yang sudah benar-benar usai terjadi, telah kita tinggalkan, tak ada kecenderungan akan muncul kembali dan pasangan pun sejak awal tak mengetahuinya. “Masa lalu itu cukuplah menjadi pembelajaran bagi diri kita untuk masa depan yang lebih baik,” ujarnya.

Ustazah Herlini juga menyarankan tak mengungkap aib yang bisa memunculkan mudarat lebih besar, misalnya keretakan rumah tangga. Apalagi bila pasangan atau calon pasangan tidak tahu atau tidak punya kecurigaan soal aib masa lalu yang sudah ditinggalkan ini. “Tak perlulah membuka aib ini dan biarkan ia menjadi sebuah pelajaran hidup,” katanya.

Secara umum, memang ada aib yang bisa ditutup rapat, terutama yang berkaitan dengan diri sendiri dan tidak memunculkan ‘bekas’ secara fisik atau perilaku.  Misalnya saja pernah memakai narkoba, pernah terlibat perilaku seks menyimpang seperti senang pada sesama jenis, atau pernah mencuri dan korupsi. Begitu pun, bukan berarti memendam aib ini menjadi mudah. Adanya deraan rasa bersalah, kekhawatiran tak mendapat ampunan dari Allah bisa tetap terasa menjadi penghukum diri.

Tidak membuka aib dalam soal-soal ini diasumsikan tidak akan mendatangkan mudarat atau bahaya bagi kehidupan suatu rumah tangga. Bahkan, membukanya mungkin justru akan mengganggu keharmonisan rumah tangga yang sesungguhnya sudah terjalin.

Namun, beberapa aib masa lalu justru perlu diungkap. Jika ditutupi, justru akan menimbulkan mudarat lebih besar bila pasangan satu saat hampir dapat dipastikan akan mengetahuinya dari orang lain atau dari imbas-imbas yang muncul belakangan. Misalnya saja, soal sakit berat yang diderita, cacat tubuh, latar belakang keluarga tidak harmonis, atau memiliki riwayat penyakit keturunan.

Bagaimana soal pengalaman seksual masa lalu? Baik pengalaman seksual akibat pemaksaan maupun yang dilakukan dengan sepenuh kesadaran, setelah melakukan tobat nasuha, Ustazah Herlini lebih cenderung menyarankan agar soal ini tidak diungkap. Memang, bisa jadi pasangan dapat mengetahuinya juga, tetapi untuk soal ini kembali kepada kesiapan setiap orang untuk menerima kondisi pasangannya apa adanya.

Kepribadian dan konsekuensi

Soal lain yang perlu dipertimbangkan dalam hal membuka atau menutup aib masa lalu adalah faktor kepribadian pasangan. “Indikasinya adalah apakah pasangan ini cukup dewasa (secara psikologis bukan usia-red),” jelas Yati.

Seseorang dengan kepribadian dewasa tentu lebih siap mendengar kisah kelam pasangannya, lebih terbuka, bijaksana, dan yang lebih penting, “Dia tidak menjadikan masa lalu kelam itu sebagai senjata untuk menyakiti kita,” tegas Yati.

Bisa saja terjadi, aib apa pun yang sudah ditutupi dari pasangan sejak mulai membina rumah tangga akan bisa dibuka manakala perjalanan pernikahan sudah semakin mantap dan satu sama lain sudah memiliki kepercayaan untuk bisa menerima si dia dengan apa adanya.

Sementara, Ustazah Herlini menyebutkan, kondisi keimanan sebagai tolok ukur mengenal kepribadian pasangan. “Bila pasangan orang yang beriman dengan benar, imannya kuat, dia akan bisa  menerima kondisi pasangannya seburuk apapun masa lalunya. Apalagi bila pasangannya sudah bertobat yang telah diperlihatkannya pula dalam perilaku hidupnya sehari-hari yang baik.”

Namun, dalam hidup selalu ada salah perhitungan atau melesetnya perkiraan. Seseorang yang diduga dewasa  atau sangat saleh bisa saja bereaksi negatif mendengar kisah kelam pasangan hidupnya.

Bila aib ini terungkap sebelum menikah, pernikahan bisa batal. Bila aib ini terungkap setelah menikah, rumah tangga bisa menjadi retak, dipenuhi kecurigaan, perasaan tidak tenteram atau lebih buruk lagi bisa terjadi perceraian.

“Itu memang sebuah konsekuensi yang harus diperhitungkan,” kata Herlini. “Bila karena itu pernikahan batal atau berakhir, berlapang dada sajalah, mudah-mudahan Allah memberi ganti yang lebih baik.”

Namun, bila hal ini terjadi dalam sebuah rumah tangga, Ustazah Herlini menganjurkan agar si empunya aib masa lalu ini segera bersikap proaktif untuk mendapatkan kembali keharmonisan rumah tangga. “Pahami kekecewaan si pasangan sebagai sebuah kewajaran, namun kemudian segera lakukan musyawarah secara terbuka, dengan komunikasi yang baik, demi menuju keharmonisan rumah tangga.”

Bila pasangan sungguh-sungguh memahami Islam, dia tentu tahu bahwa tidak ada orang hidup tanpa kesalahan dan bahwa setiap kesalahan pun masih berpeluang diberi ampunan oleh Allah. “Kalau Allah saja mau mengampuni dosa, masa sih dia tidak?” kata Herlini.