Bukan Karena Pahala Lagi, Inilah Puncak Kehambaan Seorang hamba Kepada Tuhannya
Cari Berita

Advertisement

Bukan Karena Pahala Lagi, Inilah Puncak Kehambaan Seorang hamba Kepada Tuhannya

9/18/17




Tidak ada salahnya kalau di tengah perjalanan manusia menyembah Allah karena mengharapkan sebuah imbalan atau karena mengharapkan keselamatan dari segala bencana di dunia dan akhirat. Tetapi sejatinya bukan itu tujuan dasar penciptaan mereka. Mereka diciptakan untuk menyembah-Nya semata tanpa embel-embel apapun.

Orang yang menyembah Allah karena sesuatu dinilai belum menghayati perintah Allah yang tertuang dalam sifat-sifat-Nya. Hal ini disinggung oleh Syekh Ibnu Athaillah dalam butir hikmah berikut ini.


من عبده لشيء يرجوه منه أو ليدفع بطاعته ورود العقوبة عنه فما قام بحق أوصافه

Artinya, “Siapa saja yang menyembah Allah karena sebuah harapan atau penolakan atas sebuah siksa melalui ibadahnya, maka ia belum menunaikan kewajiban sifat-sifat-Nya.”

Menerangkan hikmah ini, Syekh Syarqawi mengatakan bahwa orang yang beribadah karena sebuah harapan tertentu sebenarnya hanya memikirkan diri (nafsu)-nya, bukan bagaimana menyempurnakan ibadahnya agar benar-benar ikhlas karena Allah SWT.

بل هو قائم بحظ نفسه من جلب الثواب أو دفع العقاب بخلاف ما إذا عبده لأجل جلاله وعظمته وما هو عليه من محامد صفاته التى لا يشارك فيها إذ من كان كذالك يستحق أن يخدم بالعبادة فأنه حينئذ يكون قائما بحق أوصافه أي موفيا لها حقها... وفي الحديث لا يكن أحدكم كالعبد السوء إن خاف عمل، ولا كالأجير السوء إن لم يعط الأجرة لم يعمل

Artinya, “Tetapi ia menunaikan tuntutan nafsunya berupa kehadiran pahala atau penolakan azab. Hal ini tentu berbeda dengan seseorang yang menyembah Allah karena kebesaran, keagungan, dan sifat-sifat terpuji Allah lainnya yang hanya dimiliki oleh-Nya karena mereka yang sudah demikian berhak untuk menyandang khidmat-melayani melalui ibadah sehingga ketika itulah mereka dinilai telah menunaikan kewajiban sifat-sifat-Nya, maksudnya memenuhi tuntutan sifat-sifat-Nya... Di dalam sebuah riwayat Rasulullah bersabda, ‘Jangan sampai salah seorang kalian berperilaku seperti budak yang buruk di mana ia baru bekerja kalau takut (siksa majikannya). Jangan juga kalian berperilaku seperti buruh yang buruk di mana ia belum mau mengerjakan kewajibannya sebelum diberi upah,’” (Lihat Syekh Syarqawi, Syarhul Hikam, Semarang, Al-Munawwir, tanpa tahun, juz I, halaman 69).

Yang perlu digarisbawahi dari sini adalah pesan Rasulullah SAW agar umatnya tidak menjadi budak dan buruh yang buruk. Budak yang buruk hanya digerakkan oleh rasa takut kepada tuannya.

Sementara buruh yang buruk digerakkan oleh upah atau imbalan yang dijanjikan sang majikan. Terlebih lagi buruknya adalah orang yang berpura-pura ibadah atau mengenakan simbol-simbol religiusitas untuk kepentingan duniawi. Wallahu a‘lam.