Biarlah Ibadahmu Menjadi Rahasiamu, Sebagaimana Engkau Menyembunyikan Keburukanmu
Cari Berita

Advertisement

Biarlah Ibadahmu Menjadi Rahasiamu, Sebagaimana Engkau Menyembunyikan Keburukanmu

12/7/17



Seorang hamba sangat dianjurkan untuk menutup atau menyembunyikan keburukan, kesalahan atau dosa dosanya dimasa lalu. Bahkan tanpa dianjurkan pun,  semua orang yang berakal akan berusaha menyembunyikannya karena malu jika diketahui orang lain. Meskipun demikian ada juga yang suka membicarakan aibnya dimasa lalu bahkan membanggakannya. Ya begitulah macam dan ragam manusia.

Ketahuilah bahwa jika seseorang telah bertaubat dari berbagai dosa dan maksiatnya dimasa lalu, maka wajib baginya untuk menutup semua aib atau keburukannya itu. Dia haruslah berusaha menyembunyikannya. Jangan pernah sekalipun menceritakannya kepada orang lain. Sungguh menyembunyikan atau menutup aib masa lalu adalah salah satu adab setelah bertaubat.

Seorang yang telah melakukan kemaksiatan dimasa lalu jangan menyebarkannya kepada manusia. Menceritakan aibnya dimasa lalu dianggap sebagai perbuatan menyebarkan kedurhakaan dan kekejian.

Memang terkadang kita melihat ada sebagian orang yang telah betul betul bertaubat dari suatu kemaksiatan lalu berbangga diri menceritakannya dihadapan orang banyak. Menceritakan kemaksiatan dimasa lalu adalah suatu sikap tercela. Berusahalah menghindarinya

Rasulullah bersabda : “Seluruh umatku dimaafkan kecuali al mujaahiriin (orang yang menyebarkan perbuatan maksiatnya). Termasuk ijhaar adalah seorang hamba yang melakukan maksiat pada malam hari. Kemudian pada pagi harinya Allah menutupi aibnya. Namun ia malah berkata : Wahai Fulan. Aku telah melakukan begini dan begini tadi malam. Pada malam hari Allah menutupi aibnya tetapi keesokan harinya ia membuka penutup Allah dari aib dirinya”. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Lalu bagaimana dengan kebaikan kebaikan. Yang utama adalah jika bisa disembunyikan maka sembunyikanlah sebagaimana seseorang menyembunyikan aib dan keburukan keburukannya. Ini bermanfaat untuk memelihara diri dari ujub, riya’ dan sum’ah yang bisa menghapuskan nilai kebaikan itu. Jadi jagalah amal kebaikan yang telah kita lakukan.

Menjaga amal kebaikan haruslah melebihi cara kita menjaga rupiah atau rial yang kita miliki. Rupiah dan rial mungkin hanya modal kita di dunia tapi amal shalih adalah modal kita menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala di akhirat kelak. Jadi jagalah dengan baik, jangan sampai hilang tak  ada bekas.

Ketahuilah bahwa orang beriman akan merasa sangat puas hatinya jika amal shalihnya hanya dilihat dan diketahui Allah saja. Dan dia berusaha semampunya agar tidak  dilihat orang lain jika itu bisa disembunyikan. 

Rasulullah bersabda : “Akhfi hasanataka kamaa tukhfii saiyiatika, walaa takunanna mu’jaban bi’amalika, falaa tadrii asyaqiyun anta am sa’iidun” Sembunyikanlah kebaikan kebaikanmu sebagaimana engkau menyembunyikan keburukan keburukanmu. Janganlah engkau kagum dengan amalan amalanmu, sesungguhnya engkau tidak tahu apakah engkau termasuk orang yang celaka (masuk neraka) atau orang yang bahagia (masuk surga). H.R al Baihaqi dalam Syu’ab al Iman.