Memilih Pria yang Disukai Bukan Berarti Boleh Pacaran, Tapi Mencari Cinta Dengan Cara Syar'i, Begini Caranya
Cari Berita

Advertisement

Memilih Pria yang Disukai Bukan Berarti Boleh Pacaran, Tapi Mencari Cinta Dengan Cara Syar'i, Begini Caranya

1/16/18



Saat kau bertanya ibadah apakah yang paling lama dalam hidup seorang hamba? Maka jawabannya adalah berumah tangga, karena ibadah yang paling lama adalah menikah, kau akan benar-benar butuh perjuangan, kesabaran, keikhlasan secara terus menerus dalam kebersamaan yang ada.

Dalam pernikahan seseorang dituntut untuk selalu saling sabar, saling mengerti, saling percaya, saling menerima, saling mengayomi, saling mebutuhkan, saling mengarahkan, saling mengingatkan, dan saling menyayangi, maka carilah pasangan yang siap untuk selalu belajar dan berbenah.

Jangan Hanya Mencari Yang Pandai Membenahi Fisiknya Secara Rutin, Tapi Yang Mampu Membenahi Hatinya

Jangan hanya mencari yang pandai membenahi fisiknya secara rutin, tapi yang mampu membenahi hatinya. Sebab, cantik dan tampan itu hanya akan menyenangkan saat diresepsi pernikahan saja, tapi baiknya hati dan kesiapan hati untuk belajar menjadikan kebersamaan yang ada berbuah ibadah akan dirasa sangat mendamaikan seterusnya hingga maut memisahkan.

Carilah Ia Yang Paham Agama, Agar Saat Bersamamu Ia Bisa Memahami Tanggung Jawabnya Secara Pasti

2 Syarat Memilih Calon Suami Agar Pernikahan Bahagia:

1. Lelaki tersebut harus sholih, baik agamanya dan akhlaknya

2. Hatimu menyukai lelaki tersebut untuk menjadi suamimu
(merasa cocok dan suka padanya)

Jika salah satu syarat tidak terpenuhi, maka pernikahan bisa saja mendatangkan kesusahan dan tidak bahagia.

Menikah dengan lelaki sholeh, namun hatimu sejak awal tidak menyukai punya suami dia, tidak menghendaki suami sepertinya (baik karena faktor fisik, harta, keturunan, usia, karakter, sifat, kecocokan, pekerjaan, dll) maka belum tentu bahagia. Bahkan bukankah ada sahabat Rasulullah pernikahannya berakhir dengan perceraian karena sejak awal sang wanita tidak menyukai/mencintai calon suaminya (meski lelaki tersebut sholih).

Menikah semata-mata karena cinta, padahal suaminya tidak sholeh, buruk agamanya dan buruk akhlaknya, maka juga sering mendatangkan masalah dan penderitaan bagi sang wanita. 

Hal ini sering kita saksikan sendiri di masyarakat, dimana suami bisa sewenang-wenang, atau KDRT, atau tidak bertanggungjawab, selingkuh, menjauhkan istri dari agama, menyesatkan istri, tidak bisa membimbing istri maupun anak-anaknya, tidak bisa menjadi imam atau pemimpin yang baik bagi keluarga, dll.
Banyak artis maupun masyarakat yg akhirnya pernikahannya tidak bahagia dan bahkan bercerai padahal dahulu menikah dengan cinta dan bahkan pacaran bertahun-tahun.

Menikah dengan lelaki yang disukai bukan berarti membolehkan pacaran untuk mencari cinta sejati, namun memilih dengan cara-cara yg syar'i:

-mengetahui fisik lelaki tersebut (melihatnya secara langsung, ditambah info dari orang lain)
-mengetahui seluk beluknya, riwayat hidupnya, sifat-sifatnya, visi misinya, berbagai informasi tentang dirinya, dll, yang digali dari orang lain ditambah dari orangnya langsung.
-bertemu secara langsung untuk ta'aruf dan nadhor atau melihat (dengan adab-adab sesuai syariat, disertai mahrom dari wanita) , bisa bertanya berbagai hal secara langsung
-sholat istikharah, dan minta nasehat kepada orang-orang terpercaya