Bolehkah Seorang akhwat Menjenguk Ikhwan Yang Sakit??

Advertisement

Advertisement 970x90px

Bolehkah Seorang akhwat Menjenguk Ikhwan Yang Sakit??

2/22/18


Imam Bukhari rahimahullah membuat bab khusus mengenai hal ini dalam kitab shahihnya,

باب عيادة النساء للرجال” قال: وعادت أم الدرداء رجلاً من أهل المسجد من الأنصار

“Bab: wanita menjenguk laki-laki dan Ummu Ad-Darda’ menjenguk beberapa laki-laki ahli masjid dari kaum Anshar.”

Sebagaimana hadits ‘Aisyah menjenguk Bilal dan menanyakan keadaannya,

عن عائشة رضي الله عنها قالت : لما قدم رسول الله صلى الله عليه وسلم المدينة وعك أبو بكر وبلال رضي الله عنهما قالت : فدخلت عليهما ، فقلت : يا أبت كيف تجدك ؟ ويا بلال كيف تجدك

Aisyah radhiyallahu’anha meriwayatkan, Ketika Rasulullah shallalallahu alaihi wa sallam tiba di Madinah, Abu Bakar dan Bilal terserang demam. Kemudian, kata Aisyah, aku menemui mereka dan bertanya, ‘Ayah, bagaimana keadaanmu?’ ‘Wahai Bilal, bagaimana keadaanmu?”

Demikian juga laki-laki boleh menjenguk wanita dan menanyakan keadaannya. Sebagaimana Rasulullah shallalallahu alaihi wa sallam menjenguk sahabat wanita,

وروى مسلم عن جابر بن عبد الله أن رسول الله صلى الله عليه وسلم دخل على أم السائب – أو أم المسيب – فقال: “مَالَكِ يا أُمَّ السَّائبِ¬ أَوْ يَا أُمِّ المُسيَّبِ¬ تُزَفْزِفينَ ؟” قَالَتْ: الحُمَّى لا بارَكَ اللَّه فِيهَا، فَقَالَ: “لا تَسُبِّي الحُمَّى، فَإِنَّهَا تُذْهِبُ خَطَايا بَني آدم، كَما يُذْهِبُ الْكِيرُ خَبثَ الحدِيدِ”

Diriwayatkan dari Jabir Bin Abdullah Bahwa Rasulullah shallalallahu alaihi wa sallam menjenguk Ummu Saib –atau Ummu Musayyab- beliau bersabda, “Bagaimana keadaannmu wahai Ummu Saib –atau wahai Ummu Musayyab apa yang engkau keluhkan?”. Ia berkata, “demam, semoga Allah tidak memberkahinya (demam). Beliau bersabda, “janganlan engkau mencela demam karena ia menghapus kesalahan anak adam sebagaimana kikir menghilangkan karat besi.”

Demikian juga Ibnu Abbas yang menjenguk ‘Aisyah ketika sakit yang mengantarkannya kepada kematian.

وعن ابن عباس (رضي الله عنهما) أنه استأذن على عائشة (رضي الله عنها) في مرض موتها، فأذنت له، فقال:كيف تجدينك ؟ قالت: بخير إن اتقيت، قال: فأنت بخير إن شاء الله تعالى، زوجة رسول الله صلى الله عليه وسلم ولم ينكح بكرًا غيرك

Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma bahwasanya ia meminta izin kepada Aisyah radhiallahu anha untuk menjenguk ketika sakit yang mengantarkan kematiannya, maka Aisyah mengizinkannya. Ia berkata, “bagaimana keadaanmu?”. Aisyah berkata, “Dalam kondisi baik, jika saya bertakwa”. Ia berkata, “ engkau dalam kebaikan insyaAllah, engkau Istri rasulullah shallalallahu alaihi wasallam, ia tidak menikahi perawan kecuali engkau.”

seorang laki-laki boleh menjenguk wanita sakit yang bukan mahramnya, dan boleh juga seorang wanita mengunjungi laki-laki sakit yang bukan mahramnya, dengan 3 syarat:

1. Tertutupnya aurat, 2. Aman dari fitnah dan 3. Tidak ada khalwat


Dalilnya adalah kisah Abu Bakar yang dibawakan oleh imam Muslim dalam shahihnya:

قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، بَعْدَ وَفَاةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِعُمَرَ: " انْطَلِقْ بِنَا إِلَى أُمِّ أَيْمَنَ نَزُورُهَا، كَمَا كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزُورُهَا....أخرجه مسلم رقم 2454

Berkata Abu Bakar radhiyallahu anhu kepada Umar setelah meninggalnya Rasul shallallahu alaihi wa sallam: mari kita pergi mengunjungi ke Ummu Aiman, sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengunjunginya...

Namun perlu diperhatikan bahwa kebolehan hal ini dengan syarat terhindar dari fitnah yang datang dari lawan jenis. Jika berpotensi menimbulkan fitnah, yaitu keburukan semisal munculnya penyakit hati atau godaan syahwat maka sebaiknya dihindari mengingat banyaknya dalil yang mewanti-wanti mengenai bahaya fitnah dari lawan jenis. Apalagi sarana komunikasi sekarang lebih mudah, sehingga bisa menanyakan keadaan lewat media dan sarana yang lebih aman dari fitnah.