Ketika Pembuktian Cinta dilakukan Dengan Keperawanan, Sebuah Ironi Hari Valentine

Advertisement

Advertisement 970x90px

Ketika Pembuktian Cinta dilakukan Dengan Keperawanan, Sebuah Ironi Hari Valentine

2/14/18


Perayaan hari valentine adalah  jelas dilarang dalam Islam karena banyak hal, baik merayakan kematian pendeta, tasyyabbuh/ menyerupai orang non-muslim dan fasik dan membuat hari raya/‘ied yang baru serta dalil logika yang tidak sesuai seperti mengungkapkan cinta kok hanya satu hari saja, membuang-buang harta dan lain-lain.

Dan yang lebih parahnya lagi hari valentine adalah hari “panen dan menuai hasil” bagi para laki-laki hidng belang, serigala berjubah domba, bertingkah kelinci dan bersifat lumba-lumba. Laki-laki pengecut seperti ini memanfaatkan momen yang mungkin ditunggu-tunggu setelah sebelumnya berusaha menanam sedikit tetesan cinta ke dalam ramuan peluruh hati wanita yang bahan utamanya adalah “pengorbanan laki-laki”.

Ramuan tersebut disempurnakan dengan sentuhan akhir di momen yang tepat  yaitu bersemaikan butir coklat velentine dan berhias sepenggal syair ungkapan cinta abadi nan palsu. Dengan kodrat titik lemah wanita akan pujian dan perhatian,maka melangitlah setinggi-tingginya wanita tersebut yang sejatinya nanti akan dihempaskan ke dalam karang bumi yang terbawah.

Semakin melangit semakin  meninggi, semakin keras terhempas dan semakin dalam terperosok terkubur dalam magma bumi. Jika saja yang kaku terhempas kemudian ditoleh, tetapi ia tergeletak terbengkalai, terbujur kaku dan hanya terlewati oleh serangga dan melata kecil yang sekedar lewat mengais penyambung hidup.

Sungguh ironis mendengar berita di media, mendekati hari valentine, produksi kondom meningkat, dan berita tahun lalu pada pagi harinya setelah malam valentine ditemukan banyak sampah kondom. Yang baru-baru ini berita bahwa coklat valentine dijual satu paket dengan kondom.

Katanya karena valentine adalah hari cinta dan pembuktian kasih sayang, dan ironisnya lagi ini ada dipikiran baik laki-laki dan wanita, tetapi apakah pembuktian cinta yang bukan sesungguhnya  dibuktikan dengan berhubungan badan? Atau dibuktikan dengan melepaskan keperawanan?

Apakah dan bagaimana cinta yang sejati?

Cinta sejati adalah cinta yang terus menghujam tertancap kuat, tidakkan kecut dengan gelegar halilintar, tidakkan tergeser sejengkal tanah dengan air bah banjir dan tidak mudah berterbangan dengan hujan badai.

Ialah cinta sejati karena Allah mencintai seseorang karena ia mencintai Allah. Inilah cinta sejati, cinta yang takkan lenyap, tetap berangkulan di dunia dan berlanjut bersanding di surga akhirat tanpa gangguan cemburu bidadari.

Cinta sejati karena Agama dan akhlaknya. Jika kecantikan masa muda mulai melambaikn tangan, kekuatan tubuh mulai melepas genggamannya akan tetapi agama dan akhlak mulai semakin mendekap erat dan cinta tetap bersemayam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ

أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ،

وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ. متفق عليه

“Tiga hal, bila ketiganya ada pada diri seseorang, niscaya ia merasakan betapa manisnya iman: Bila Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dibanding selain dari keduanya, ia mencintai seseorang, tidaklah ia mencintainya kecuali karena Allah, dan ia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkan dirinya, bagaikan kebenciannya bila hendak diceburkan ke dalam kobaran api.” (Muttafaqun ‘alaih)

Renungkan ringkasan kisah berikut, maka cinta yang sesungguhnya bukan karena kecantikan, harta dan kekayaan, tetapi cinta karena Allah.

Sahabat Abdurrahman bin Abi Bakar radhiallahu ‘anhu ketika bepergian ke Syam untuk berdagang. Di tengah jalan, ia bertemu seorang wanita berbadan semampai, cantik nan rupawan bernama Laila bintu Al Judi. Iapun jatuh cinta sampai tahap terkena penyakit mabuk cinta. Ia sering menyebut-nyebut mama Laila dan mengarang beberapa syair. Ia sejatinya merana karena cinta.

Khalifah Umar bin Al Khattab radhiallahu ‘anhu merasa kasihan kepadanya. Kemudian umar berkata kepada panglima perang yang akan berperang ke Syam,

قال لصاحب الجيش إن ظفرت بليلى بنت الجودي عنوة

فادفعها الى عبد الرحمن بن أبي بكر

“jika engkau menang dan mendapatkan Laila bintu Al-Judi sebagai tawanan [menjadi budak], maka serahkanlah kepada Abdurrahman bin Abi Bakar”

فظفر بها فدفعها الى عبد الرحمن وأعجب بها وآثرها على نسائه

حتى شكونه إلى عائشة فعاتبته على ذلك ا

“maka Laila bintu Al-Judi menjadi tawanan perang dan diserahkanlah kepada Abdurrahman bin Abi Bakar, dan Abdurrahman bin Abi Bakar lebih mendahulukan [cintanya] dibandingkan istri-istrinya yang lain. Maka istrinya yang lain mengadu kepada Aisyah [saudara Abdurrahman bin Abi Bakar], tetapi teguran Aisyah dibalas olehnya, Abdurrahman berkata,

فقال والله كأني أرشف بأنيابها حب الرمان

“Demi Allah, seakan-akan aku mengisap gigi-giginya yang bagaikan biji delima”[ia sangat menikmmati kecantikan dan kemolekan Laila bintu Al-Judi]

فأصابها وجع سقط له قواها فجفاها حتى شكته إلى

Tak lama kemudian  Laila bintu Al-Judi tertimpa penyakit yang menyebabkan bibir bawahnya terjatuh [wajahnya menjadi jelek], maka Abdurrahman sering berbuat kasar kepadanya [tidak cinta lagi], kemudian Laila bintu Al-Judi mengadu kepada Aisyah maka Aisyah berkata,

فقالت له عائشة يا عبد الرحمن لقد أحببت ليلى فأفرطت

وأبغضتها فأفرطت فإما أن تنصفها وإما أن تجهزها إلى أهله

“Wahai Abdurrahman, dahulu engkau mencintai Laila dan berlebihan dalam mencintainya. Sekarang engkau membencinya dan berlebihan dalam membencinya. Sekarang, hendaknya engkau pilih: Engkau berlaku adil kepadanya atau engkau mengembalikannya kepada keluarganya. Karena didesak oleh saudarinya demikian, maka akhirnya Abdurrahmanpun memulangkan Laila kepada keluarganya. (Tarikh Damaskus 35/34 oleh Ibnu ‘Asakir, Darul Fikr, Beirut, 1419 H, Asy-Syamilah]

Seperti inilah akhir cinta hanya karena kecantikan saja, maka perhatikanlah wahai para wanita apakah laki-laki mencintaimu hanya karena kecantikan saja? Atau ia tertarik dengan agama dan akhlakmu?

Pembuktian cinta sejati hanya dengan menikah

Jika ada mengakui mencinta tetapi tidak menikahi atau segera menikahi maka itu semua hanya cinta kasih yang menjelma saja dalam pandangan mata yang berfatamorgana.

Walaupun yang diumbar adalah sajak romantis yang mengalahkan merdu kicauan burung, walaupun sentuhan sayang yang dibelai mengalahkan tetesan embuh dan  walaupun buah tangan yang diberi adalah rangkaian melati bersanggul jelita. Semuanya tanpa pernikahan adalah semi palsu bahkan tipu daya.

Mengapa? karena orang yang paling mengetahui hakikat pembuktian cinta mengatakan bukti cinta adalah menikah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لم ير للمتحا بين مثل النكاح

“Tidak diketahui [yang lebih bermanfaat] bagi dua orang yang saling mencinta semisal pernikahan” [HR. Ibnu Majah no. 1847, Al-Hakim 2/160, Al-Baihaqi 7/78 dishahihkan oleh Al-Albani dalam As- silsilah As-shahihah no. 624]

Ulama pakar hati Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullahu berkata,

وقد اتفق رأي العقلاء من الأطباء وغيرهم في مواضع الأدوية

أن شفاء هذا الداء في التقاء الروحين والتصاق البدنين

“Sungguh para dokter dan yang lainnya bersepakat dalam pandangan orang-orang yang berakal mengenai pengobatan, bahwa obat dari penyakit ini [mabuk cinta] adalah bertemunya dua ruh dan menempelnya dua badan [yaitu menikah]”. [Raudhatul Muhibbin hal. 212, Darul Kutub Ilmiyah, Beirut, 1403 H, Asy-Syamilah]

Sekali lagi, pembuktian cinta hanya dengan menikah!