Sudah Istikharah Namun Belum Ada Tanda Petunjuk dari Allah, Ini Jawabannya
Cari Berita

Advertisement

Sudah Istikharah Namun Belum Ada Tanda Petunjuk dari Allah, Ini Jawabannya

2/26/18

“Tanda bahwa shalat istikharah saya dijawab sama Allah itu bagaimana ya Ustadz? Apakah melalui mimpi?” tanya pemuda yang aktif pengajian di masjid itu.

Pertanyaan lain lebih mengernyitkan dahi. “Saya masih bingung antara dua gadis yang ingin saya khitbah. Saya shalat istikharah lalu bermimpi. Dalam mimpi itu, saya dikejar tikus. Maknanya apa ya?”

Dua pertanyaan itu menggambarkan pandangan sebagian masyarakat yang menganggap bahwa shalat istikharah kita akan dijawab Allah dengan mimpi. Dari mimpi itulah kemudian ditafsirkan bagaimana Allah memilihkan jawaban buat kita.

Benarkah demikian? Ternyata tidak. Dalam beberapa kitab fiqih yang membahas istikharah, tidak ada satu pun yang membicarakan mimpi atau mengaitkan shalat ini dengan mimpi.

Buka saja Fiqih Sunnah, Fiqih Islam wa Adillatuhu, Fiqih Manhaji dan lain-lain. Tidak ada yang mengatakan bahwa tanda jawaban shalat istikharah diberikan Allah lewat mimpi.

Lalu bagaimana jawaban shalat istikharah itu? Bukankah shalat istikharah dilakukan dalam rangka memohon kepada Allah dipilihkan pilihan terbaik dari dua atau lebih pilihan yang kita hadapi dalam urusan mubah? Entah itu memilih pekerjaan, memilih jodoh atau urusan lainnya.

Jawaban bukan melalui mimpi


Banyak orang menanti jawaban istikharah melalui mimpi, atau melalui membuka Quran secara acak lalu mencoba mencari jawabannya melalui ayat yang tak sengaja terbuka, atau dengan butiran-butiran tasbih dan lain-lain. Itu semua tidak mempunyai landasan dalil dan hadist yang kuat. Mimpi sangat rencan dipengaruhi oleh halusinasi dan perasaan seseorang.

Istikharah adalah doa agar kita dimudahkan dalam memilih, maka jawabannya tentu bukan dari mimpi. Sebuah ilustrasi kalau kita akan ujian terkadang kita harus menjawab pertanyaan pilihan ganda. Di situ kita berdoa kepada Allah agar benar dalam memilih. Apakah jawaban yang kita peroleh dari mimpin? tentu tidak.Tetapi jawaban itu kita temukan dari hasil belajar sebelumnya.

Dalam memilih sesuatu, yang diperlukan adalah survei, data dan argumentasi yang kuat. Itulah lndasan kita dalam memilih. Maka sebelum istikharah kita dituntut untuk mengumpulkan data, survei dan meneliti. Setelah semua itu kita lakukan dan sudah ada alasan untuk memilih, maka melalui istikharah lah kita meminta kepada Allah agar pilihan kita tidak salah.

Tidak seperti persangkaan sebagian orang bahwa jawaban shalat istikharah dikirim Allah dalam bentuk mimpi, sesungguhnya hasil istikharah adalah kemantapan hati.

Yaitu, hati kita lebih condong ke pilihan mana yang terasa lebih baik untuk kita. Hati kita mantap memilih apa, itulah hasil istikharah kita. Tidak harus berupa mimpi.

Imam An Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Setelah istikharah, seseorang harus mengerjakan apa yang dirasa baik untuknya. Di samping itu, hendaknya ia benar-benar bebas dari kehendak pribadi. Jadi jangan sampai ada perasaan ini pilihan terbaik, sebelum mengerjakan shalat istikharah. Karena jika demikian, sama halnya tidak istikharah atau kurang tawakkal pada pengetahuan dan kekuasaan Allah.”

Syaikh Wahbah Az Zuhaili rahimahullah dalam Fiqih Islam wa Adillatuhu menguatkan dengan mengutip riwayat Ibnu Sunni,

“Hai Anas, jika engkau menginginkan sesuatu, maka mintalah petunjuk kepada Allah sebanyak tujuh kali. Setelah itu, lihatlah urusanmu mana yang masuk dalam hatimu pertama kali karena di situlah tempat kebaikan.”

Tidak ada dalil yang menunjukkan tanda-tanda jawaban dari shalat istikharah. Ini memperkuat uraian di atas bahwa yang memilih adalah kita, bukan Allah memilihkan kita, tetapi kita berdoa agar Allah memberikan kekuatan kita dalam memilih.


Ulama besar Syafii, Iz bin Abdussalam mengatakan setelah istikharah seorang hamba hendaknya mengambil keputusan yang diyakininya dengan pasti.

Ulama lain Kamaluddin Zamlakani mengatakan selesai shalat istikharah hendaknya seseorang mengambil keputusan yang sesuai keyakinannya, baik itu sesuai dengan bisikan hatinya atau tidak, karena kebaikan adalah pada apa yang ia yakini, bukan dari apa yang cocok di hatinya. Bisikan hati kadang dipengaruhi oleh perasaan subyektif dan tidak ada dalil yang menyatakan seperti itu.

Imam Qurtubi juga mengatakan hal yang sama dan menambahkan hendaknya hatinya dibersihkan dari hal-hal yang mempengaruhinya. Ibnu Hajar juga mengatakan bahwa sebaiknya tidak mengikuti kecenderungan hati karena biasanya itu dipengaruhi oleh hal lain sebelum melaksanakan shalat istkharah.

Itu benar, misalnya seseorang yang sudah dirundung rasa cinta mendalam terhadap seseorang, mana mungkin ketika dia istikharah akan mendapatkan jawaban untuk tidak memilihnya.

Setelah memilih dengan analisa dan pertimbangannya yang matang, hendaknya juga diikuti sikap tawakkal, bahwa itu mudah-mudahan pilihan yang tepat dan mudah-mudahan Allah akan memudahkan semuanya.