Beberapa Nasehat Bagi Muslimah Agar Menjadi Pribadi yang Kuat.

Advertisement

Advertisement 970x90px

Beberapa Nasehat Bagi Muslimah Agar Menjadi Pribadi yang Kuat.

3/6/18


Salah satu anugerah Allah Subhaanahu Wa Ta’ala yang kerap disalahgunakan adalah kehidupan. Kelihatannya, seiring berkembangnya manusia dalam teknologi dan sains, penyimpangan antara cara hidup kita dan cara hidup seharusnya berdasarkan fitrah juga meningkat.

Meski kini klaim atas kemenangan teknologi dan kecanggihannya yang tak pernah ada sebelumnya dalam sejarah, kita masih berjuang menghadapi depresi, meningkatnya angka bunuh diri dan perceraian yang mengkhawatirkan.

Bahkan sebagai seorang Muslimah, sangat menyedihkan saat kita menjadi wanita yang senang chatting, berolahraga di atas treadmill, dan sekedar meng-klik waktu yang seharusnya untuk keluarga dengan memberi like, share, atau komen di postingan media sosial yang tidak berguna. Kita berpura-pura menjadi orang lain untuk mencari perhatian orang yang tidak kita suka, dengan uang yang tidak kita miliki, untuk alasan yang tidak kita ketahui.

Dari menjadi seorang Muslimah yang anggun terbalut dalam kesederhanaan dan kehormatan, kita telah mengubah diri kita menjadi gantungan baju dengan merek-merek ternama.

Eksistensi kita menurun, yang semula merupakan Hamba Allah, berubah menjadi hamba nilai mata uang, yaitu uang yang kita terima setiap bulan yang sayangnya tidak kita gunakan untuk memperoleh identitas kita sebagai seorang Muslimah.

Bukankah sudah waktunya kita belajar untuk memprioritaskan peran kita sebagai Muslimah di atas hal-hal yang lain? Hidup selalu penuh dengan godaan, dan rintangan yang akan selalu mencoba untuk menjebak kita untuk mencuri waktu berharga dan iman, dengan menjadikan kita eksis dibawah angan-angan indahnya menjadi orang kaya lagi penting.

Inilah saatnya untuk menegaskan identitas kita yang sebenarnya di bawah cahaya Islam dan firman-Nya. Hidup tentu saja adalah sebuah perjuangan; pilihannya yakni hanya ada dua, apakah kita berjuang di jalan Allah atau menyimpang dari jalan itu.

Kita harus berhenti berusaha untuk ‘membaur’ ke dalam kehidupan dunia ini; karena ia sebenarnya bukanlah milik kita. Kita diturunkan ke dunia ini dalam waktu singkat untuk mempersiapkan tempat tinggal abadi kita, yaitu Jannah, insyaaAllah.

Jadi, apa yang harus kita lakukan untuk mengembalikan identitas kita sebagai Muslimah dalam dunia sementara dan konsumtif yang tampaknya telah menjerat sebagian besar dari kita saat ini?

1. Pertahankan keimanan dan berhenti menyalahkan orang lain

Beberapa dari kita mungkin masih mengakui gaya hidup yang salah, namun anehnya tidak mau berjuang melawan hal itu. Kita menerima begitu saja keniscayaan malapetaka yang kita hadapi tanpa ada perlawanan sama sekali. Karena itu, untuk menghindar dari rasa bersalah karena tidak mengambil alih atas perbuatan kita sendiri, dan dengan mudahnya menempatkan tanggung jawab pada “tangan tak terlihat” yang membentuk dinamika masyarakat kita.

Pertama-tama, kita harus mengakui bahaya yang mengintai keimanan kita yang terlihat dari gaya hidup masyarakat modern sekarang, kemudian memutuskan untuk melakukan sesuatu untuk mengklaim kembali iman dan kehidupan kita.

2. Kendalikan hidup dengan al-Qur’an

Kita harus mengambil kendali dari setiap menit yang lewat dalam kehidupan kita dengan mengembangkan gaya hidup, baik secara fisik, intelektual, dan emosional yang sehat. Gaya hidup sehat menuntut apapun yang kita lakukan, untuk  melibatkan semua indera kita secara maksimal agar bisa melakukan aktifitas.


Agama kita telah menguraikan dengan jelas apa saja yang diharapkan terhadap kita dan sejarah kehidupan para Muslimah hebat di masa lalu, lebih lanjut menunjukkan kita bagaimana caranya untuk mendapatkan ridha Allah Subhaanahu Wa Ta’ala. Oleh karena itu, bukannya merasa tak tahu arah dan tujuan, namun kita harus menggunakan perisai iman dan al-Qur’an untuk melawan semua pengaruh buruk di sekitar kita. Kita, –para Muslimah–, sepenuhnya mampu, cerdas, dan maju, jika imannya benar, maka ia telah terlatih untuk mempertahankan dirinya sendiri dari berbagai serangan, baik secara psikologis, fisik, emosional, juga spiritual. Jadi, ambil langkah pertama dalam hidup Anda dengan berpegang teguh kepada Al-Qur’an, cara hidup yang diberikan oleh Sang Pencipta dan mempelajari din (agama)-Nya

3. Berbuat dengan tujuan dan hasil yang Jelas

Kita harus tahu tujuan dari perbuatan kita dan memperjelas hasil apa yang kita inginkan. Ini sangat penting untuk tetap mengecek dalam aktifitas keseharian kita. Jika kita membuka mulut, usahakan itu karena kita memiliki sesuatu yang baik untuk diucapkan dan bukan hanya karena kita punya paket telepon gratis untuk ngobrol di ponsel semalaman.

Jika kita makan, usahakan itu untuk memuaskan rasa lapar dan menutrisi tubuh, bukannya hanya sekedar untuk memuaskan lidah dan mengisi perut kita semaunya. Saat kita berpakaian, usahakan itu untuk menutupi aurat dengan sederhana, bukan memamerkan status finansial kita. Pertanyakan diri sendiri sebelum melakukan sesuatu dan pilihlah suatu tindakan terbaik untuk diri anda sendiri di setiap aspek kehidupan.

4. Banyak Berdzikir dan Menjaga Pola Makan (Sehat dan Halal).

Ketika kita hendak memulai hari, bukannya berdzikir kepada Allah, tetapi justru kebanyakan dengan secangkir kopi. Setiap hari, kita mengkonsumsi makanan sintetis dengan perasa buatan dan pengawet yang tidak sehat lalu menutup hari dengan obat tidur. Dan ironisnya, setelah penggerusan berkelanjutan terhadap fitrah dan sistem saraf, ternyata kita masih tertipu, mengganggap diri lebih cerdas dan maju ketimbang nenek moyang kita.


Dalam obat-obatan tersebut ada pelarian diri dan rasa lega sesaat ketika menghadapi tantangan hidup, tetapi kehidupan itu sendiri mesti dijalani, bukan malah melarikan diri. Cobaan dalam hidup mengajarkan kita pelajaran penting atas pentingnya bersabar. Jika kita tidak menghadapi ujian-ujian ini, kita tidak akan pernah mencapai nilai-nilai kemanusiaan yang harus dimiliki setiap Muslim. Obat-obatan anti depresi, obat tidur membuat kita hidup dalam ilusi dunia yang sempurna, padahal Rasulullah Shalallahu’alayhi Wa Sallam dan al-Qur’an itu turun kepada kita untuk menghentikan ilusi tersebut.

Dzikir, yaitu mengingat Allah dan mengingat akan pahala yang diberikan oleh-Nya atas setiap amalan kebaikan yang kita lakukan, adalah obat anti depresi seorang Muslimah. Singkatnya, segalanya akan terasa berbeda, bahkan cobaan ini akan membuat kita semakin dekat kepada Rabb kita dan akan membuka kesempatan untuk mengamalkan apa yang akan membantu kita pada hari kiamat nanti. Ia adalah tawakkal (menggatungkan semua masalah kepada Allah,red).

5. Mempraktikkan Islam hari ini, apakah mungkin?

Dalam meniti jalan menjadi seorang Muslimah sejati, tentu Anda akan menghadapi berbagai dilema yang menyulitkan untuk mempraktikkan ajaran Islam pada akhir-akhir sekarang ini. Pada dasarnya, ketika kita mulai mempraktikkan Islam dan berusaha mendekatkan diri kepada Allah, kita akan menghadapi tantangan yang sebenarnya kita buat sendiri. Misalnya, pekerjaan kita, komitmen keluarga, dan aturan sosial yang membuat kita menjauh dari ibadah ritual yang saat ingin kita amalkan.

Bahkan sebagai wanita, kita menghadapi banyak tantangan baik dari adat istiadat, budaya, pernikahan, dan lainnya. Satu hal yag Anda harus camkan adalah, di manapun Allah menempatkan diri Anda dalam kehidupan ini (selama hal itu tidak haram,red), Anda bisa tetap berada di sana, pastikan tujuan utama untuk mendapatkan ridha Allah semata, dan berusahalah bersikap adil semampunya selama berada dalam segala kondisi.

Kejayaan wanita bukanlah diukur dengan kompetisi kita dengan para lelaki agar setara dengan mereka. Kita punya tempat tersendiri dalam skema yang berbeda-beda.

6. Serangan Media; Mempertahankan Perspektif

Realitas adalah realita yang Allah Subhanahu Wata’ala kehendaki bisa terjadi. Kita tidak punya pilihan bagaimana dan seperti apa seharusnya sebuah kenyataan itu. Satu-satunya pilihan kita ialah menyerahkan begitu saja bagaimana sesuatu dan seperti apa hal tersebut berjalan, maka kita akan paham beberapa aspek tertentu mengenai realitas.

Berbagai program TV membuat kita percaya bahwa ada sebuah dunia yang sempurna di sana, di mana semua sesuai dengan apa yang kita inginkan. Tidak ada yang namanya dunia yang sempurna. Kesempurnaan hanya ada di kehidupan selanjutnya jika kita berhasil memasuki JannahNya.

Kita harus memutuskan dari berbagai pilihan yang diberikan oleh Allah (subhanahuwata’la) kepada kita untuk bagaimana merespon realitas dan tidak tergelincir ke dalam khayalan atau terjebak tipuan dunia maya.

Mengagumkan sekali bukan, bagaimana orang-orang terlihat cantik, kaya, dan bahagia di media sosial? Mereka terlihat sibuk jalan-jalan, bersenang-senang dengan teman-teman mereka, dengan make-up sempurna dan suami yang serasi disisi mereka dalam satu klik momen yang sempurna. Ini bukan kebetulan.

Mereka ini pastinya telah melewati masa-masa sulit dan depresi, dan foto pasangan yang sempurna itu bisa jadi adalah satu dari sekian ratus klik kamera yang diambil. Stop mengukur kebahagiaan orang lain dari internet. Karena bisa jadi, mungkin mereka sedang butuh bantuan untuk menghindari tagihan pinjaman bank yang menggunung yang telah menjebak mereka dalam keputusasaan untuk terlihat kaya dan bahagia.

7. Tinggalkan persaingan kotor

Kita terjebak dalam persaingan kotor dalam pekerjaan, meraih status dan uang bahkan terkadang mengabaikan komitmen keluarga. Sebagai Muslimah, sepatutnya kita menghindari hal tersebut. Iman adalah fondasi terkuat bagi kepribadian kita. Fokus kita harus merupakan kontrol yang kuat terhadap diri kita sendiri dan rumah kita, sehingga tubuh, jiwa, dan pikiran kita selalu hadir untuk beribadah kepada Allah lewat ketaatan kita.

Sepertinya banyak dari kita berkesimpulan bahwa tidak ada cara lain untuk hidup, tidak sadar bahwa keputusasaan datangnya sari Syaithan yang telah bersumpah kepada Allah untuk menyesatkan kita. Hanya orang-orang yang muhsin yang mampu menghindar dari tipuan Syaithan dan istiqamah terhadap perintah Allah sebagai hambaNya yang beriman.


Gaya hidup kita terlajur materialistis sampai-sampai tidak ada ruang untuk menutrisi iman kita, tapi gaya hidup ini dibuat sendiri oleh kita, dan kabar baiknya, bisa diubah oleh kita juga.

8. Katakan tidak pada pornografi

Kita semua mengaku jijik dengan iklan-iklan cabul di media, sayangnya kita masih tidak malu-malu menonton iklan-iklan yang nyatanya menantang harga diri kita.

Bagaimana kita bisa mempertahankan rasa malu dan kehormatan kita saat menonton iklan-iklan seperti itu dengan ayah, saudara laki-laki, dan anak-anak kita dan dengan pasrah menyalahkan semuanya kepada media?

Kualitas pokok rasa malu harus tertanam kuat pada karakter setiap Muslim yang mengakar teguh sehingga penyimpangan terhadap ketidaksopanan sekecil apapun itu tidak akan bisa diterima. Bahkan tidak boleh ada kompromi dalam urusan asset spiritual dan mengatakan tidak untuk hal itu, merupakan sebuah langkah penting dalam mereklamasi identitas dan keluarga kita sebagai Muslim.

9. Dari haram ke halal

Sudah tentu keinginan setiap Muslim untuk menjadi salah satu hamba yang dicintai Allah Subhaanahu wa ta’aala, akan tetapi kenyataan justru kita menentang Allah dan RasulNya, misalnya, dengan mendukung praktik riba.

Kita harus percaya bahwa Allah adalah Maha Pemberi Rizki. Kita tak bisa menghindar dariNya dan satu-satunya jalan menuju sukses adalah taat padaNya. Riba hukumnya haram dan tidak ada keberkahan dalam hal yang haram, dan lagi tidak ada kepuasaan atas kekayaan yang diperoleh.



Oleh karena itu, belajarlah untuk mengambil dari dunia ini sebanyak yang kita perlukan saja. Tanyakan dirimu, mengapa meski lemari kita penuh dengan pakaian tapi merasa tidak punya baju untuk dipakai? Barangkali, pakaian takwa-lah yang belum ada dalam hidup kita, dan hingga pakaian itu masih belum kita miliki, kita akan selalu merasa kurang.

Jadi, khawatir untuk mendapatkan “pakaian takwa” yang lebih penting di atas semua jeis pakaian; yaitu sadar akan adanya Allah. Hal ini membantu kita untuk beralih dari haram ke halal, dalam setiap aspek kehidupan, insyaaAllah.

10. Mendahulukan akhirat, sebuah cara pandang baru

Sumber kebahagiaan kita menentukan ketakutan dan penyesalan kita. Saat kita menjadikan dunia sebagai kebahagiaan terbesar kita, kehilangan secuil dari dunia membuat kita sedih luar biasa. Dunia itu sendiri, secara fitrah, sia-sia. Kecuali jika kita menjaga diri kita dari nafsu mendapatkan dunia demi dunia itu sendiri, kita akan dikelilingi ketakutan dan penyesala yag akan membuat kita jauh dari Allah.

Jika perhatian utama kita adalah akhirat, maka kita bisa menangis, tersenyum, bahkan takut karena Allah, menyesali dosa-dosa kita dan mulai mencari ridha Allah subhaanahu wa ta’aala. Kitalah yang menghuni dunia ini, bukan dunia yang “menghuni” diri kita.

Gaya hidup kita akan benar-benar berubah jika tujuan kita sukses akhirat dan dunia ini hanya merupakan sarana untuk mencapai Jannah. Gaya hidup kita akan menjadi lebih sederhana dan memudahkan kita untuk mempraktikkan ajaran Islam itu sendiri.

Singkatnya, kita harus menegaskan kembali identitas kita sebagai seorang Muslim dalam semua hal; bagaimana mengikuti jalan yang benar dalam mendapatkan penghasilan, menghabiskan waktu bersama keluarga, berbelanja seperlunya dan membesarkan anak-anak kita dengan nilai-nilai Islam.

Kita harus berusaha tersenyum dengan tulus, bukan hanya dengan mengirim smile emoticon di ponsel, kita harus merasa cantik tanpa harus bermake-up tebal bahkan sampai menjalani operasi plastik yang menyakitkan.

Kita harus memulai perjalanan menuju penemuan jati diri. Perjalanan ini akan mulai dengan sendirinya segera setelah kita menerima Allah sebagai tuhan kita dan Muhammad sebagai nabi kita, dan Islam sebagai agama kita. Mari memulai perjalanan untuk mencari potensi diri kita yang menakjubkan ini.