Wahan, Penyakit Ganas Umat Akhir Zaman
Cari Berita

Advertisement

Wahan, Penyakit Ganas Umat Akhir Zaman

4/23/18


Peringatan Rasulullah saw. tentang penyakit wahan  mengingatkan umat ini tentang kemunduran, dan keterpurukan umat Islam.

Di seluruh dunia, Sejarah mencatat, kejatuhan demi kejatuhan kekhilafahan Islam, selain Khulafaur Rasyidin, selalu berhubungan erat dengan wahan. Mulai dari Umayyah, Abasiyah, dan Utsmaniyah yang terpuruk di awal abad 20; wahan menjadi sebab utama.

Kekhilafahan tersebut tumbang bukan karena serangan musuh melalui konflik senjata, melainkan karena pergeseran orientasi, dari menegakkan Dinul Islam kepada kepuasan duniawiyah.

Kini, umat Islam terpecah-pecah menjadi serpihan-serpihan kecil yang tidak saling berhubungan satu sama lain. Dan serpihan kecil itu pun tidak menjadikan umat Islam tersadar dan bangkit, melainkan terjebak dalam permainan raja kecil memperebutkan kue secuil.

Kondisi inilah yang menjadikan umat Islam sebagai sasaran empuk musuh-musuhnya sebagai sapi perahan. Mereka terjajah, terbodohi, dan terjebak dalam konflik antar umat Islam sendiri.

Wahan sebagai Penyakit Akhir Zaman

Wahan seperti yang disampaikan Rasulullah saw. mencakup dua penyakit mental yang satu sama lain saling berkait. Yaitu, cinta dunia dan takut mati. Mental pencinta dunia sudah pasti takut akan kematian, dan begitu pun sebaliknya.

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا ». فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ « بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِى قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ ». فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهَنُ قَالَ « حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ ».

Dari Tsauban, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hampir saja para umat (kafir) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadapi makanan dalam hidangan”. Seseorang bertanya, ”Wahai Rasulullah, apakah kami pada saat itu sedikit?” Rasulullah berkata, ”Bahkan kalian pada saat itu banyak. Tetapi, kalian bagai buih yang dihanyutkan air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ’Wahan’. Kemudian seseorang bertanya, ”Apa itu wahan?” Rasulullah menjawab, ”Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Daud dan Ahmad)


Di masa Rasulullah saw. dan para sahabat, penyakit ini sama tidak dikenal. Tidak heran jika mereka bertanya hingga dua kali ke Rasulullah saw. tentang keadaan umat yang terhinggapi wahan.

Cinta dunia sama sekali bukan ciri sahabat Rasul yang berlomba dalam infak dan sedekah. Begitu pun dengan takut kematian. Para sahabat justru berebut untuk berada di garis terdepan dalam semua medan jihad bersama Rasulullah saw.

Tidak heran, jika hanya dalam kurun beberapa tahun saja setelah kekuasaan Islam di Madinah, di masa Khalifah Umar bin Khaththab, Kekaisaran Persia jatuh ke tangan kaum muslimin. Dan beberapa tahun kemudian, menyusul Romawi yang takluk dengan kekuasaan umat Islam.

Cinta dunia yang menghinggapi mental umat saat ini menunjukkan bahwa umat Islam begitu dangkal dalam visi perjuangan. Tak lebih dari materi. Orang sekarang menyabutnya UUD, atau ujung-ujungnya duit.


Kerakusan menjangkiti penguasa muslim. Orang yang rakus hampir pasti bisa dikatakan pelit. Karena harta yang di luar jangkauan dirinya saja begitu dikejar, apalagi dengan yang sudah ia pegang.

Orang bermental rakus ini tentu ingin menikmati dunia yang ia miliki semaksimal mungkin. Ia tidak ingin melepas, apalagi meninggalkan kesenangan tersebut. Hal inilah yang menjadikan mereka begitu takut dengan kematian.

Padahal, dengan penghindaran atau penjagaan dengan cara apa pun, kematian tetap akan mengejar semua manusia, termasuk mereka.

Bagi musuh-musuh Islam, mental wahan di umat Islam ini menjadikan mereka kian mudah mencengkeram dan menjajah. Ibarat anak kecil yang rela menyerahkan anting, kalung, hp, bahkan dirinya, demi sebungkus permen.