Akhlak Muslim : Beberapa Langkah Untuk Mempersiapkan Kedatangan Ramadhan

Advertisement

Advertisement 970x90px

Akhlak Muslim : Beberapa Langkah Untuk Mempersiapkan Kedatangan Ramadhan

5/11/18


Alhamdulillah, saat ini kita sudah memasuki bulan sya'ban, tanda sebentar lagi sudah masuh bulan Ramadhan. Kita sering mendengar sebuah doa agar dipertemukan dengan bulan Ramadhan.



اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

“Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah (umur) kami kepada bulan Ramadhan.”

Allah Subhanahu WaTa’ala berfirman;

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS: At Taubah: 36)

Maka pertanyaannya, apa saja yang perlu diketahui  dalam  bulan agung itu serta kelebihan apa yang dimilikinya sehingga kita yang masih di bulan Rajab ini turut mempersiapkan diri dalam menyambutnya.

Ramadlan adalah bulan yang sangat diistimewakan Allah Azza wa Jallah, karena dengannya seluruh pintu Surga dibuka dan pintu jahannam tempat penyiksaan manusia ditutup rapat.

Sebagaimana hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Baihaqi, dari Abu Hurairah, Rasululah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda; “Ketika tiba malam pertama bulan Ramadlan, setan-setan dan jin-jin durhaka dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup, sehinga tidak ada satu pintu neraka pun yang dibuka, dan pintu-pintu surga dibuka sehingga tidak ada satu pintu surga pun yang ditutup. Lalu seseorang berseru, wahai pencari kebaikan maka sambutlah, wahai pelaku kejahatan maka tahanlah. Dan milik Allah-lah orang-orang ang dibebaskan dari neraka, dan hal itu terjadi pada setiap malam.”

Bulan Ramadlan adalah bulan yang dapat dikatakan bulan panen pahala dan berkah, sebuah bulan yang Allah subhanahu wata’ala sengaja memanjakan hamba-hambanya yang beriman, bahkan umat manusia secara keseluruhan.

Karena bulan tersebut merupakan  kesempatan yang sangat spesial dan menggiurkan bagi para pencari hidayah dan ampunan dari Rabb pemilik alam semesta ini.

Dapat kita lihat beberapa lanjutan keistimewaan bulan ramadlan selain dibukanya pintu surga dan ditutupnya pintu neraka. Pertama, bulan ini adalah tempat diturunkannya kalam Allah Subhanahu Wata’ala yaitu Al-Qur’an, wahyu-Nya yang diturunkan sebagai surat cinta untuk umat manusia.

Kedua, amal sholeh akan dilipat gandakan. Ketiga, bulan ini adalah bulan yang penuh keberkahan didalamnya. Keempat, tempat pengampunan dosa. Kelima, sebuah bulan yang mendidik kita mencapai derajat ketaqwaan. Keenam,  ada satu malam yang jika kita berhasil mendapatkannya maka pahala pada malam tersebut lebih baik dari seribu bulan, dialah malam Lailatul Qadar.

Dengan melihat keistimewaan-kesistimewaan yang dimiliki bulan Ramadlan, maka pantaslah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassallam, para sahabatnya, para tabiut tabiin serta para ulama berharap penuh berjumpa dengannya.

Kita selaku orang Islam yang mempunyai keimanan yang tidak ada bandingnya dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam dan para sahabat beliau semestinya lebih merindukannya karena tahu bahwa diri ini penuh dosa dan maksiat. Wallahu A’lam bisshowab.


Ramadhan adalah bulan dimana orang-orang sholeh dan para generasi salaf berdoa kepada Allah agar mereka disampaikan dan dipertemukan dengannya, bahkan enam bulan sebelum kedatangannya. Adalah Mualla bin al-Fadhl pernah berkata: “Mereka (ulama salaf) selama enam bulan berdoa kepada Allah supaya disampaikan ke bulan Ramadhan, dan berdoa enam bulan selanjutnya agar amalan mereka pada bulan Ramadhan diterima.”

So, sebenarnya bagaimana caranya agar kita menyambut tamu agung ini agar tidak terlewatkan dengan penyesalan?

1. Di pertengahan sampai akhir bulan Sya’ban yang mulia ini kita memohon ampunan kepada Allah dan memanfaatkannya dengan sebaik mungkin dan memperbanyak puasa di dalamnya.



Ummul mukminin, Aisyahra menuturkan:

ما رايت رسول الله صلى الله عليه وسلم استكمل صيام شهر الا رمضان وما رايته أكثر صياما منه في شعبان

 “Aku tidak melihat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam berpuasa sebulan penuh kecuali Ramadhan dan aku tidak melihat beliau lebih banyak berpuasa dibandingkan dengan di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari Muslim)

Tidak melenakan apalagi menganggap bulan ini yakni bulan Sya’ban sama seperti bulan-bulan lainnya. Sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam, para sahabat dan salafush shalih di zamannya.

“Ya Allah, serahkanlah aku kepada Ramadhan dan serahkan Ramadhan kepadaku dan Engkau menerimanya kepadaku dengan kerelaan.” Dan juga seperti do’a yang sering kita lantunkan:

“Ya Allah, rahmati kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikan kami kepada Bulan Ramadhan.”

2. Menunaikan kewajiban puasa di tahun lalu jika ada yang ditinggalkan karena sebab syar’i yang membuatnya meninggalkan puasa, semisal sakit, safar. 



Dan tidak hanya itu, kita juga melihat kembali apa saja yang kurang di Bulan Ramadhan tahun yang lalu. Dengannya kita akan memuhasabah dan tidak akan mengulangi kembali di Ramadhan tahun ini. Senantiasa menanamkan dalam hati bahwa Ramadhan adalah momen spesial bagi umat Islam untuk memperbaiki diri, muraqabah kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Membaca Al-Qur’annya semakin ditingkatkan karena pahalanya akan dilipatkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga Allah Subhanahu Wata’ala menurunkan kepadanya rahmat.

3. Mempersiapkan bekal ilmu terlebih tentang fiqh puasa. 



Sebab dengan ilmu maka amal yang kita lakukan akan terjaga. Seperti yang disampaikan oleh Muadz bin Jabal bahwa: “Hendaklah kalian memperhatikan ilmu, karena mencari ilmu karena Allah adalah ibadah.”

4. Mempersiapkan jiwa. 



Maksudnya adalah persiapan lahir dan batin dalam melaksanakan ibadah di Bulan Ramadhan dengan penuh ketaatan dan keikhlasan karena Allah Subhanahu Wata’ala. Mengapa demikian. Hal ini karena di saat puasa tentu akan banyak sekali godaan yang bisa membuat seseorang batal puasanya. Tidak hanya karena makan atau pun minum.

Akan tetapi hal-hal seperti menjaga lisan dan perbuatan dari yang diharamkan. Sebab sebenarnya hal itu juga membuat seseorang yang berpuasa tidak akan mendapatkan pahala dari Allah Subhanahu Wata’ala selain dari rasa haus dan lapar semata. Naudzubillah min dzalik.