Begini Yang Seharusnya Dilakukan Suami Ketika Bertengkar Dengan Istri Seperti Yang Dicontohkan Rasulullah

Advertisement

Advertisement 970x90px

Begini Yang Seharusnya Dilakukan Suami Ketika Bertengkar Dengan Istri Seperti Yang Dicontohkan Rasulullah

Agung Prayitno
7/25/18

Begini Yang Seharusnya Dilakukan Suami Ketika Bertengkar Dengan Istri Seperti Yang Dicontohkan Rasulullah


Rasulullah SAW mendapatkan predikat dari Allah SWT sebagai Uswatun Hasanah, yang artinya teladan yang baik bagi seluruh umat. Apapun yang datangnya dari Rasulullah adalah cerminan sikap yang baik untuk ditiru.

Seperti halnya firman Allah SWT dalam surat Al Ahzab, ayat 21, yang artinya :

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS: Al Ahzab – 21)

Begitu besar keutamaan Rasulullah, hingga saat beliau marah pun sikapnya yang lemah lembut tetap yang lebih terlihat mencolok.

Marahnya Rasulullah adalah marah yang paling utama, niatnya tiada lain demi kebaikan umat dan agama, bukan karena nafsu dan amarah. Tak terkecuali ketika beliau harus tegas kepada istri-istrinya. Ya! kepada istrinya.

Mungkin diantara kita ada yang bertanya-tanya, “bagaimana bisa Rasulullah marah kepada istrinya? Kalau begitu, berarti Rasulullah juga pernah mengalami hiruk pikuk permasalahan rumah tangga?” Jawabannya adalah iya!.

Dikutip dari nu.or.id Rasulullah adalah manusia biasa, manusia biasa yang istimewa. Beliau hidup seperti layaknya kita, yaitu makan, minum, bekerja, tidur, dan berumah tangga.

Adapun beliau bertikai dengan istrinya, karena keutamaan sikap beliau, Rasulullah tetap bisa mengendalikan amarah dan berlaku lemah lembut kepada istrinya meskipun terkadang beliau juga memperlihatkan ketegasannya.

Namun, yang jelas sikap Rasulullah saat marah kepada istri benar-benar berbeda dengan sikap orang pada umumnya.

Salah satunya adalah yang dikisahkan buku Kisah-kisah Romantis Rasulullah.

Suatu ketika Aisyah berbicara dengan keras dan lantang kepada Rasulullah dari bilik kamar. Abu Bakar as-Siddiq yang saat itu bertamu di rumah Rasulullah segera mengetahui kalau anaknya (Aisyah) dan menantunya (Rasulullah) sedang bertikai.

Karena mengetahui hal itu Abu bakar pun meminta izin untuk menemui putrinya.

Ketika sudah sampai dihadapan Aisyah Abu bakarpun mengangkat tangannya dan hendak memukul Aisyah Karena telah berbicara keras kepada Rasulullah. Namun Rasulullah mencegahnya.

Di hari berikutnya, Abu Bakar berkunjung ke rumah Rasulullah. Dia menyaksikan kalau anak dan menantunya telah baikan dan tidak bertengkar lagi pada hari itu.

Dikisahkan juga bahwa suatu ketika Rasulullah marah kepada Aisyah karena suatu hal. Kemudian Rasulullah meminta Aisyah menutup mata dan mendekat pada Rasulullah.

Kemudian Rasulullah berkata “Khumaira ku (panggilan sayang Rasulullah untuk Aisyah) telah pergi rasa marahku setelah memelukmu,”

Dari cerita Rasulullah di atas, ada dua hikmah yang bisa dipetik. Terutama bagaimana seharusnya sikap seorang suami kepada istri ketika mereka cekcok.

Pertama, tidak melibatkan orang lain.

Persoalan rumah tangga sebaiknya diselesaikan sendiri, tidak perlu melibatkan orang lain meskipun itu orang tua sendiri atau mertua. Rasulullah pun mencegah Abu Bakar yang notabennya mertuanya sendiri untuk ‘ikut campur’ dalam permasalahan rumah tangganya.

Kedua, menghilangkan kemarahan terhadap istri dengan mendekapnya.

Seperti yang dilakukan Rasulullah, ketika seorang suami atau istri marah atau berselisih dengan pasangannya maka hendaknya ia langsung memeluk pasangannya. Jangan malah menampar atau memukulnya.