Bentuk Keutamaan Mengajari Anak Membaca Al-Qur'an, Berikut Penjelasannya !
Cari Berita

Advertisement

Bentuk Keutamaan Mengajari Anak Membaca Al-Qur'an, Berikut Penjelasannya !

7/16/18
Keutamaan Mengajari Anak Membaca Al-Qur'an

Apabila seseorang membaca dan mengamalkan Al-Qur’an, maka berkahnya adalah orang tua si pembaca akan dikenakan mahkota pada hari Kiamat, yang cahanya melebihi sinar matahari sekitainya matahari itu berada di dalam rumah kita. Matahari yang begitu jauh, sangat terang sinarnya.

Apalagi jika matahari itu berada di dalam rumah, tentu akan lebih terang dan lebih berkialuan. Namun, cahaya mahkota orang tua pembaca Al-Qur’an yang mengamalkan isinya, akan lebih terang daripada sinar matahari yang berada di dalam rumah itu.

Jika orang tua pembaca Al-Qu’ran saja akan mendapatkan pahala seperti itu, maka tidak dapat kita bayangkan bagaimana pahala pembaca itu sendri? Apabila orang yang menjadi perantara saja begitu tinggi derajatnya, apalagi orang yang melakukannya sendiri, tentu akan memperoleh derajat yang lebih tinggi. Orang tua mendapatkan pahala yang demikian itu, hanya karena dialah yang telah melahirkan anak tersebut atau karena dia telah mendidiknya.

عَنْ مُعَاذٍ الْجُهَنِيِّ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ قَالَ:قَالَ رَسُلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : مَنْ قَرَأَ اَلْقُرْ اۤ نَ وَ عَمِلَ بِمَا فِيْهِ أُلْبسَ وَالِدَ اهُ تَا جاً يَوْمَ الْقيَا مَةِ ضَوْءُهُ أَحْسَنُ مِنْ ضَوْ ءِ الشَّمْسِ فِى بُيُوْ تِ الدُّنِيَا لَوْكَنَتْ فِيْكُمْ فَمَا ظَنُّكُمْ بِالَّذِ يْ عَمَلَ بِهَذَا

Dari Sayyidina Mu’adz Al-Juhani Radhiyallahu ‘anhu, Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihiwasallam bersabda, “Barangsiapa membaca Al-Qur’an dan mengamalkan apa yang terkandung di dalamnya, maka kedua orang tuanya akan dikenakan mahkota pada hari kiamat yang cahanya melebihi cahaya matahari sekitainya ada di dalam rumah-rumah di dunia ini, maka bagiamanakah perkiraanmu mengenai orang yang dia sendiri mengamalkannya?” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Hakim).

Seperti yang dilansir oleh kajian.afafurroji, keutamaan bagi orang tua yang mengajar anaknya membaca Al-Qu’ran. Jika kita menjauhkan kita dari agama hanya karena beberapa rupiah, maka bukan saja diri kita yang akan tertutup dari pahala, tetapi kita juga harus menjawab pertanyaan-pertanyaan Allah SWT.

Apakah kita takut jika setelah Anak kita menjadi seorang ustadz atau hafizh, lalu ia akan menjadi seorang penjaga mesjid yang hidupnya akan bergantung pada orang lain, sehingga kita melarang anak kita untuk belajar agama?

Ingatlah! Jika demikian, berarti kita telah melemparkan anak kita ke dalam penderitaan yang selama-lamanya, bahkan kita juga menanggung beban tanggung jawab. Sebuah hadits menyebutkan:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُوْ لٌ عَنْ رَعِيَّيِهِ

“Setiap kamu adalah pemimpin, dan seitpa kamu akan ditanya tentang kepemimpinannya”

Setiap orang akan ditanya sejauh mana ia telah mengajarkan agama kepada orang yang ada di dalam tanggung jawabnya. Memang sangat penting menjauhkan diri dari aib tersebut (hidup tergantung pada orang lain), tetapi tidak berpakaian hanya karena takut kutu sangatlah tidak masuk akal. Justru kita mesti menajga kebersihan pakaian tersebut.

Demikian pula, jika kita mendidik agama kepada anak kita, kelak kita akan terbebas dari tuntutan. Selama anak kita masih hidup, seluruh amal baiknya dan doa-doa ampunan yang ia mohonkan untuk kita, akan menyebabkan derajat kita dinaikkan.

Sebaliknya, jika hanya demi rupiah kita mengorbankan pendidikan agama anak-anak, disamping akan menanggung akibatnya, kita juga tidak akan bisa lepas dari tanggung jawab atas kefasikan dan kejahatan mereka. Catatan amal kita tidak akan kosong begitu saja dari amal-amal keburukan anak-anak kita.

Dengan nama Allah SWT, sayangilah diri kita. Dunia pasti berakhir, dan maut adalah penghabisan segala penderitaan dunia. Tetapi, penderitaan setelah maut tidak akan pernah berakhir.