Istri menjadi TKW, Beginilah Islam Mengajarkan Kita
Cari Berita

Advertisement

Istri menjadi TKW, Beginilah Islam Mengajarkan Kita

7/27/18

Dalam sebuah rumah tangga mencari nafkah adalah kewajiban suami, namun dalam kehidupan nyata banyak kita temukan sepasang suami istri sepakat melakukan pembagian kerja yang mereka anggap menguntungkan bagi kedua belah pihak, suami menjaga anak-anak di tanah air, sementara istri bekerja sebagai TKW di negeri orang. Pertanyaannya sekarang adalah apakah kesepatakan (suami-istri) ini sesuai dengan ajaran Islam?

Dalam kehidupan bersosial manusia tidak lepas dari hak dan kewajiban,
Lalu bagaimana dengan kehidupan berumah tangga, apakah terdapat hak dan kewajiban bagi suami istri?

Dalam keluarga tentu terdapat hak dan kewajiban yang harus dipenuhi satu sama lainnya, hak dan kewajiban suami istri tertulis dengan jelas sebagai sebuah kesepatakan antara keduanya di buku akta pernikahan saat mereka mengikat sebuah perjanjian yang kokoh di hadapan penghulu, saksi, para tamu undangan dan Allah Ta’ala.

“Untuk mewujudkan keluarga sakinah, kedua pihak hendaknya menjunjung tinggi hak dan kewajiban masing-masing, saling cinta dan kasih, saling menghormati dan memuliakan, serta saling mengingatkan untuk selalu taat dan beribadah kepada Allah SWT.” Untuk lebih jelasnya apa saja hak dan kewajiban yang tertera di buku nikah, alangkah baiknya bagi anda yang sudah menikah untuk membukanya kembali sambil membaca dan merenunginya.

dikutib dari: dakwatuna, Jika kita renungi, seorang wanita atau istri yang bekerja di dalam negeri saja, mereka harus berjuang untuk tetap memenuhi hak dan kewajibannya dalam keluarga dan dalam memberikan kasih sayang serta pendidikan terhadap anak-anaknya.

Betapa tidak mudahnya seorang istri yang bekerja siang malam di luar rumah, menguras pikiran seharian, lalu letih saat kembali ke rumah, belum lagi hari-harinya habis dengan orang lain daripada dengan keluarganya sendiri kecuali akhir pekan itupun jika tidak ada lembur atau urusan mendadak soal pekerjaan. Ya inilah konsekuensi wanita pekerja.

Berpisah dalam waktu yang cukup lama dengan bekerja melanglangbuana hingga ke luar negeri sebagai TKW, apakah semua hak dan kewajiban dalam keluarga dapat terpenuhi?, wanita yang bekerja di dalam negeri saja masih berjuang untuk tetap memenuhi hak dan kewajiban karena hal ini tidak mudah, maka tak jarang mereka menitipkan anak-anak mereka kepada pengasuh atau pembantu rumah tangga.

Lalu apakah bedanya antara membujang dengan berumah tangga kalau hak dan kewajibannya tidak dipenuhi bahkan sering dilanggar?
Adakah jaminan kesetiaan antara suami istri yang terpisahkan oleh jarak, ruang dan dinding waktu yang begitu lama?

Anak-anak merupakan tanggung jawab suami istri yang harus diperhatikan. Jangan sampai karena alasan ekonomi/duniawi, seorang anak menjadi “yatim” atau ‘piatu” lantaran ditinggal oleh ibunya dalam waktu cukup lama. Kasih sayang ibu adalah hak anak paling asasi dan amat fundamental dalam pembentukan kepribadiannya.

Prof. KH. Ali Mustafa Yaqub juga menegaskan perihal seorang istri yang menafkahi keluarga dengan mengatakan sekiranya ada wanita (istri) yang memberi nafkah keluarga karena berbagai sebab dan ia rela, maka itu tidak ada masalah baginya. Tapi andai ia tak rela, maka hukum Islam memberikan jalan keluar. Ia dapat mengajukan gugatan cerai ke pengadilan agama, karena ia tidak mendapat nafkah dari suami. Dalam ajaran Islam dikenal dengan istilah “Khulu” yaitu gugatan cerai yang dilayangkan oleh seorang istri kepada suami.

Dan tampaknya, wanita yang menafkahi keluarga itu hanya kasus yang seyogyanya tidak terjadi, karenanya itu tidak dapat mengubah aturan dalam Islam, artinya hak-hak dan kewajiban suami istri tetap seperti semula dengan membebankan kewajiban untuk nafkah keluarga kepada suami.

“dan kewajiban ayah (yang dianugerahi putra) memberi Makan dan pakaian kepada Para ibu dengan cara ma’ruf.” (QS. Al-Baqarah ayat 233)

Petunjuk Alquran ini tentu harus dipahami dan diikuti oleh umat Islam (khususnya para lelaki) agar mereka memperoleh kebahagiaan hidup di dunia maupun di akhirat. Karenanya hikmah Allah Ta’ala menghendaki fisik lelaki diciptakan lebih kuat dari fisik para wanita, tiada lain agar para lelaki bisa bekerja keras, bersaing, bertanggung jawab, tahan cuaca untuk menafkahi keluarga, menjadikan istrinya sebagai ratu dalam rumah tangga dan bukan menjadikan istrinya bak buruh.

Dan memang faktanya seribu banding satu ada suami yang lebih menginginkan istrinya menjadi IRT, sebagian besar mengizinkan bahkan mendorong para istrinya bekerja dengan alasan kondisi ekonomi yang kurang mengizinkan, kenapa demikian?

Karena di era modern kita seringkali kesulitan membedakan antara kebutuhan primer dan sekunder, Keluar Dari Rumah dan Bekerja.

Banyak wanita pada zaman sekarang lebih memilih untuk berada di luar rumah, alasannya beragam ada dari mereka yang karena terpaksa, ada yang karena keadaan atau kebutuhan, bekerja dan ada yang sebaliknya mereka senang berada di luar rumah.

Padahal Alquran telah mengajarkan kepada para wanita untuk senantiasa tetap berada di dalam rumahnya kecuali ada alasan atau keperluan mendesak yang diperbolehkan oleh syariat dan mendapat izin keluarga atau suami bagi yang sudah menikah dengan memperhatikan batasan-batasan seperti:

1. Tidak keluar sendirian apalagi pulang hingga larut malam
2. Kalaupun keluar sendiri senantiasa pandai melihat kondisi yang tidak membahayakan dirinya
3. Berpakaian rapi dan sopan (menutup aurat).
4. Tidak memamerkan perhiasan yang bisa mengundang tindakan kriminal
5. Tidak berlebihan dalam bersolek dan dalam memakai wangi-wangian
6. Memperhatikan batasan pergaulan dengan lawan jenis dan menjaga perilaku
7. Dan yang paling penting adalah berusaha menjaga kehormatan diri serta keluarganya.

“Memangnya tidak boleh ya, kalau wanita lajang berkarir atau berkarya untuk mengaktualisasikan dirinya guna mencari pengalaman dan dari pengalaman itu bisa dijadikan pelajaran untuk anak-anaknya kelak atau tujuannnya ingin mandiri dan bisa memberi kepada orangtua dan membahagiakannya”.

Selama masih dalam koridor yang dibolehkan oleh syariat maka hukumnya tidak mengapa wanita bekerja asal ada ijin dari suaminya, yang jadi masalah adalah saat wanita ingin disamakan kewajibannya seperti laki-laki bahkan melebihi kewajiban para lelaki, lebih menjadi masalah lagi jika kaum wanita lebih senang berada di luar rumah karena kepuasan dan kesenangan pribadi.