Jika Ibu Adalah Malaikat Tanpa Sayap, Maka Ayah Adalah Ksatria Tanpa Kuda
Cari Berita

Advertisement

Jika Ibu Adalah Malaikat Tanpa Sayap, Maka Ayah Adalah Ksatria Tanpa Kuda

7/12/18
Jika ibu adalah malaikat tanpa sayap, maka ayah adalah ksatria tanpa kuda


Seorang Ibu mengandung selama 9 bulan lamanya, selama dalam kandungan ibu tidak pernah mengeluh kesakitan. Ketika kandungannya mulai membesar, ibu mulai sulit mengerjakan pekerjaan apapun termasuk berdiri, duduk maupun berjalan.

 Kita tahu rasanya, ibu seperti menanggung beban berat di perutnya, tetapi ibu menikmati semua itu sambil mengusap  perutnya tiap saat secara perlahan. Mengusap dengan kasih sayang dan membacakan doa agar kelak Kita menjadi anak yang solehah dan berguna bagi bangsa dan agama.

Ibu saat itu seperti di antara ambang pintu hidup atau mati, karena Ibu mempertaruhkan nyawanya demi buah hatinya, tetapi setelah mendengar tangisan buah hatinya, ibu merasa bahagia sekaligus terharu seketika rasa sakit ketika mengeluarkan kita dari dalam perutnya pun tergantikan.

Hal yang paling menyedihkan ketika melihat ibu menangis atas perlakuan kita. Teringat dosa besar jika ibu menangis sia-sia karena anaknya. Ingin meminta maaf, tapi rasa gengsi di diri ini terlalu besar.

Hal yang paling di takutkan lagi adalah kematian. Seperti yang dilansir oleh dakwatuna.com, sejak kecil hingga dewasa, sosok ibu sangat berharga dan penting di kehidupan.Tanpanya seorang anak tidak akan mungkin bisa menghargai orang lain dan tentunya menghargai hidup ini. Tak ingin berpisah dengannya, apalagi dipisahkan oleh kematian. Seorang anak akan sangat sedih ketika ditinggalkan oleh ibunya yang sudah membesarkannya dengan penuh cinta tulus dan kasih sayang.

Sedangkan sosok seorang ayah mampu menjalani nya dengan mudah karna semangat dan tekadnya untuk membahagiakan keluarga nya.

Ayah selalu berusaha dengan keras untuk bisa menafkahi keluarganya, ayah tidak pernah malu untuk mengemis pekerjaan ke orang lain, karna dia pengen istrinya bahagia, anak-anak nya senang. Ayah selalu berusaha untuk itu, walau harus terluka ayah akan tetap berjuang.

Ingat kah kita!
Saat kita main sampai larut, ayahlah yang menyuruh ibu menelpon kita.
Saat kita menangis, ayahlah yang menyuruh ibu bertanya kenapa pada kita.
Saat kita ulang tahun, ayahlah org yg mati matian bekerja untuk membeli hadiah atau bahkan hanya sebuah kue kecil.
Saat kita sakit, ayahlah orang yang rela brusaha mncari dokter walau hujan atau apapun.
Saat kita lupa ibadah, ayahlah orang yang selalu mngingatkan kita.
Saat kita terluka, ayahlah orang yang mampu menggendong kita.
Saat kita tumbuh dewasa, ayahlah yang selalu menyelipkan nama kita dalam doanya.
Saat kita menikah kelak, ayahlah orang yang paling tak rela kehilangan.

Tapi mengapa ayah selalu terlihat cuek? karna ayah tidak ingin terlihat lemah oleh anaknya, ayah menangis saat menyendiri dan terlihat kuat saat bersama anaknya. Andai Tuhan bicara dengan ayah kita, “anakmu akan Ku panggil”, mungkin ayah akan menjawab “tukarlah nyawaku dengan nyawanya, aku ikhlas”.

Seperti yang dilansir oleh anggiahrynt/wattpad kadang kita menghargai ayah hanya karna rasa takut, kadang kita lebih mudah cerita masalah ke ibu di bandingkan ayah. Sesungguhnya dibalik keras kepala ayah, tersimpan hati yang sangat lembut.

Selagi ada kesempatan, banggakanlah dia, teruslah buat dia tersenyum. Peluklah ayahmu karna ayah tak mampu mengalahkan egonya. Hargai, hormati, dan cintailah ayahmu melebihi cinta pada diri kita sendiri.