Menikahi Orang Yang Kau Cintai Atau Mencintai Orang Yang Telah Kau Nikahi ?
Cari Berita

Advertisement

Menikahi Orang Yang Kau Cintai Atau Mencintai Orang Yang Telah Kau Nikahi ?

7/10/18


Permasalahan cinta mungkin telah sering kita dengar, bahkan sudah tak lazim lagi bagi kalangan remaja.

Namun, banyak juga remaja yang tak mau mengikuti arus mainstream dengan budaya pacaran.
Memang menikah adalah sebuah sunnah rasul yang harus dilaksanakan setiap kaum.

Dikutip dari bersamadakwah.net begitulah agama Islam ini mengajarkan tentang bagaimana memperlakukan kesucian cinta itu dengan benar. Cinta tanpa pernikahan adalah omong kosong. “Kalau anda cinta ya nikahilah!”, begitulah mungkin yang acapkali kita dengar dari sebagian orang. Mereka memegang teguh prinsip, “Seseorang yang membiarkan pasangannya menunggu terlalu lama, sesungghnya dia itu tidak cinta!”. Dari pernyataan-pernyataan ini dapat ditarik kesimpulan bahwa orang-orang pada umumnya adalah memegang kaidah “menikahi orang yang dicintai”.

Lantas, bagaimana pandangan islam mengenai hal ini?
Apakah menikah harus terlebih dulu dilandasi oleh rasa cinta?
Lalu, bagaimana kalimat "mencintai orang yang dinikahi?"

Menikahi orang yang dicintai

Makna kalimat ini adalah cinta harus terlebih dulu tumbuh sebelum pernikahan terjadi.
Dari dalil ini kita menyepakati bahwa memang menikahi seseorang yang disukai/dicintai ini adalah sah menurut agama, bahkan sangat dianjurkan.

“Apabila kalian melamar seorang wanita, tidak ada dosa baginya untuk me-nadhar-nya, jika tujuan dia melihatnya hanya untuk dipinang. Meskipun wanita itu tidak tahu.”
(HR. Ahmad & At-Thabrani)

Mencintai orang yang dinikahi

Maknanya seseorang menikah terlebih dahulu baru berusaha mencintai pasangannya.

“Cintailah kekasihmu sewajarnya saja karena bisa saja suatu saat nati ia akan menjadi orang yang kamu benci. Bencilah sewajarnya karena bias saja suatu saat nanti ia akan menjadi kekasihmu.” (HR. Al-Tirmidzi).

“Sesungguhnya orang-orang yang saling mencintai, kamar-kamarnya di surga nanti terlihat seperti bintang yang muncul dari timur atau bintang barat yang berpijar. Lalu ada yang bertanya, “siapa mereka itu?, “mereka itu adalah orang-orang yang mencintai karena Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR. Ahmad)

Dari teks hadits tersebut terlihat dengan jelas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan umatnya untuk berkasih sayang dan saling mencintai terhadap pasangan yang telah dinikahinya. Karena sebagaimana telah kita ketahui bahwa pernikahan merupakan sebuah ibadah yang teramat mulia hingga dikatakan sebagai penggenap separuh agama. Di dalam pernikahan terdapat banyak sekali maslahat untuk kedua pasangan yang saling mencintai karena Allah SWT.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir“  (Q.S. Ar Ruum : 21)

Dari ayat tersebut telah jelas bahwa Allah menciptakan pasangan adalah untuk menentramkan hati setiap hamba-Nya yang bertaqwa.

Dan dari dua opsi di atas bahwa agama islam memerintahkan untuk mengelola rasa cinta dengan baik dan benar.