Romantislah Pada Pasanganmu, Sesungguhnya Allah Menyayangi Keluarga Romantis
Cari Berita

Advertisement

Romantislah Pada Pasanganmu, Sesungguhnya Allah Menyayangi Keluarga Romantis

7/20/18
Romantislah Pada Pasanganmu, Sesungguhnya Allah Menyayangi Keluarga Romantis

Menikah tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan kita karena manikah adalah fitrah dari manusia. Dengan menikah maka kehidupan akan terus berkesinambungan.

Islam sangat menganjurkan pemeluknya untuk menikah. Bagi orang yang sudah waktunya dan mempunyai cukup modal sangat dianjurkan untuk menikah.

Rasulullah pernah bersabda:
“Nikah itu sunahku. Barang siapa yang membenci sunahku, dia bukan golonganku.”(HR.Ibnu Majah)

Dikutip dari Dakwatuna.com islam tidak hanya menganjurkan menikah, tapi juga bagaimana pernikahan itu sakinah. Begitu banyak cara agar rumah tangga sakinah.

Di antaranya adalah menciptakan keromantisan. Keromantisan merupakan kunci utama menjalani hidup bersama pasangan. Dengan sikap romantis dari kedua pasangan, hidup di dunia bagai di surga.

Rasulullah bersabda,

إنَّ الرَّجُلَ إِذَا نَظَرَ إِلَى اِمْرَأَتِهِ وَنَظَرَتْ إِلَيْهِ نَظَرَ اللهُ إِلَيْهِمَا نَظْرَةَ رَحْمَةٍ فَإِذَا أَخَذَ بِكَفِّهَا تَسَاقَطَتْ ذُنُوبُهُمَا مِنْ خِلَالِ أَصَابِعِهِمَا

“Sesungguhnya, seorang laki-laki (suami) ketika melihat kepada istrinya dan istrinya melihat dia maka Allah melihat keduanya dengan kasih sayang. Jika suami memegang tangan istrinya, maka berguguranlah dosa-dosa dari celah jari-jari keduanya.”

Hadis di atas, disebutkan dalam kitab Jami’ al-Ahadits oleh Imam Syuthi. Juga dalam kitab Kanzu al-Ummal Fi Sunan al-Aqwal Wa al-Af’al oleh Ala’uddin Ali bin Hisamuddin.

Sungguh indah, jika kita bisa mengamalkan hadits di atas. Bayangkan, seorang suami memandang wajah istrinya lekat-lekat. Istri pun membalas tatapan itu. Mata mereka bertemu. Mereka saling pandang. Dengan rasa kasih yang mendalam.

Lalu, suami memegang tangan istri dengan erat. Istri pun membalasnya dengan erat. Seakan mereka saling berjanji: kita sehidup semati. Indah bukan?

Sekali-kali seorang suami butuh berduaan dengan istri, memadu kasih, Jalan-jalan berdua ketempat wisata. Yang bertujuan agar cinta keduanya semakin dalam. Sehingga bisa terhindar dari cinta yang tidak diinginkan. Namun, jangan sampai karena alasan keromantisan melanggar ajaran islam.

Selain itu, suami istri juga harus menciptakan keromantisan dalam ibadah. Maksudnya? Sambil beribadah sambil memadu kasih. Hal ini pernah di-dawuhkan oleh Rasulullah saw. dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Abu Daud. Rasulullah bersabda,

رَحِمَ اللهُ رَجُلًا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّى وَأَيْقَظَ اِمْرَأَتَهُ فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فَيْ وَجْهِهَا اَلْمَاءَ رَحِمَ اللهُ اِمْرَأَةً قَامَتْ مِنَ اللَيْلِ فَصَلَّتْ وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا فَإِنْ أَبَي نَضَحَتْ فِيْ وَجْهِهِ اَلمْاَءَ

“Allah menyayangi seorang laki-laki yang bangun malam lalu salat. Dan, dia membangunkan istrinya. Jika istri tidak mau, dia memercikkan air kepada wajah istri. Allah juga menyayangi wanita yang bangun malam lalu salat. Dan, membangunkan suaminya. Jika suami tidak mau, dia memercikkan air ke wajah suami.” (HR. Abu Daud)

Menurut Syaikh Waliyuddin at-Tibrizi dalam kitanya, Misykah al-Masabih, Rasulullah mengatakan ‘memercikkan air untuk membangunkan pasangan’ itu sebagai bentuk sikap talattuf (lembut).

Suami bersikap lembut saat mengajak sang istri bermunajat pada Allah. Istri bersikap lembut saat mengajak suami bersimpuh di hadapan Allah. Tentu, hal ini merupakan romantis abadi. Sebab, indahnya keromantisan ini tidak hanya dirasakan di dunia, tapi juga akan berlanjut sampai di akhirat.

Jadi, pandanglah mata istri dalam-dalam. Balas pandangan suami sambil tersenyuman. Peganglah tangan istri dengan syahdu. Eratkan pegangan suami dengan rindu yang memburu.

Saling membantu dalam kebaikan dan memenuhi kewajiban. Misalnya, suami belum shalat, istri mengingatkan. Istri belum shalat, suami yang mengingatkan. Jika demikian, Allah akan mencurahkan kasih sayang. Begitulah, indahnya keromantisan.