Sebagian Orang Bertanya Apakah Anjuran Suami-istri Dalam Masa Iddah? Inilah Jawabannya!
Cari Berita

Advertisement

Sebagian Orang Bertanya Apakah Anjuran Suami-istri Dalam Masa Iddah? Inilah Jawabannya!

7/10/18

Bagi yang telah menikah pasti tak pernah mempunyai keinginan untuk berpisah. Sebuah perpisahan atau perceraian merupakan perkara yang sangat dibenci oleh Allah, Oleh sebab itu ia berarti merusak  ikrar agung dan mulia. Adakalanya sebuah perceraian menjadi jalan satu-satunya setelah semua jalan perdamaian ditempuh akan tetapi tidak menemui titik terang.

Allah Subhanahu wa ta’ala telah menetapkan sebuah syariat yang sempurna. Jika seorang suami yang telah menalak isterinya (talak 1 atau 2) itu masih bisa rujuk dengan sang isteri tanpa harus menikah lagi selama keinginan untuk kembali tersebut masih ada masa iddah.

Dikutip dari eramuslim.com masa iddah adalah masa jeda (masa menunggu) masa instrospeksi diri antara suami dan isteri, masa untuk mencari solusi dari masalah yang sedang dihadapi, memikirkan dengan bijaksana apakah keputusan bercerai adalah keputusan yang tepat bagi dirinya? apakah membawa manfaat dan maslahat atau sebaliknya?. Apabila ternyata bercerai adalah keputusan yang salah, maka keduanya (suami-istri) boleh rujuk kembali.

Kesalahan Di Masa Iddah

Kenyataannya, kebanyakan masyarakat yang masih awam belum benar-benar mengerti dan memahami tentang hikmah dari masa iddah itu. Sebagian besar isteri yang ditalak oleh suaminya serta merta pergi meninggalkan rumahnya. Padahal seharusnya tidak demikian.

Allah berfirman:

“Hai Nabi, apabila kamu menceraikan isteri-isterimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu iddah itu serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu. Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) ke luar kecuali mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang…” (Q.S. At-Talaq[65]: 1)

Dalam syariat Islam, pada masa iddah baik suami maupun istri dianjurkan untuk tidak meninggalkan rumahnya. Mereka harus tetap serumah seperti biasanya. Kondisi seperti ini memungkinkan serta memudahkan keduanya (suami-istri) untuk duduk bersama mencari solusi dari masalah karena perceraian.

Bahkan di masa iddah si isteri dianjurkan untuk berlaku lebih baik pada suaminya, bersikap dengan lemah lembut, dan berhias untuk menarik perhatian sang suami dan berharapan sang suami bisa berubah pikiran dan memutuskan untuk merujuk.

Apakah diperbolekan berkumpul selama masa Iddah?

Mungkin sebagian dari kita ada yang bertanya-tanya, Bagaimana jika karena sikap lemah lembut dan penampilan cantik isterinya si suami memiliki hasrat untuk mengumpuli si isteri pada masa iddah? Apakah tidak berdosa ketika keduanya berkumpul seperti halnya suami-istri yang tidak bercerai?

Jawabannya; Bercampurnya suami dan isteri di masa iddah tidaklah berdosa. Bahkan hal tersebut otomatis menjadikannya rujuk dan masa iddah terhapus pada saat itu juga. Keduanya bisa kembali menjadi pasangan suami-istri seperti sebelumnya tanpa harus menikah lagi.