Untuk Istri Perlakukanlah Suamimu Sebaik Mungkin, Karena Suamimulah Pintu Surga Terbuka Untukmu
Cari Berita

Advertisement

Untuk Istri Perlakukanlah Suamimu Sebaik Mungkin, Karena Suamimulah Pintu Surga Terbuka Untukmu

7/10/18




“Dek, tadi Mas mau dikasih uang lima belas juta cash oleh perusahaan provider rekan perusahaan Mas yang kemarin. Itu pun kalau kurang mau ditambah lagi. ”

“Uang apa Mas? Hati-hati ya Mas, adek tidak mau Mas ngambil uang yang abu-abu .Masa ngasih uang tanpa ada sebab ‘kan tidak mungkin.”

“Iya, memang Mas tolak, kok. Dokumen penagihan mereka yang nilainya ratusan juta ada sama Mas, Mas bilang, ‘uang ini kasih buat kantor saya yang kemarin, ini bukan hak saya. Karena saya tidak bekerja di sana lagi sekarang.’ Bapaknya tadi bilang, kalau Mas mau besok atau kapan mau ambil uangnya dipersilakan. Gimana menurut Adek?”

“Jangan, ah. Gapapa kita susah, asal jangan makan hak orang lain. Berat Mas pertanggungjawabannya, mengalir di tubuh anak. Anak-anak jadinya bandel, gak bakal berkah Mas hidup kalo kita ngambil hak orang, hati pasti gak tenang, hiii… ngeri, naudzubillah!”

“Iya, Mas juga bangga kok tidak nerima uang itu, meskipun dalam kondisi kita yang begini.”

Sekelumit percakapanku dengan suami lima tahun yang lalu. Di mana saat itu adalah masa transisi suami pindah ke perusahaan baru, sementara saya baru saja melahirkan anak kedua, tentu biaya dan kebutuhan lebih banyak, saya yang saat itu baru pulang dari kampung, usai persalinan menghabiskan uang yang tidak sedikit, di tambah lagi sebulan berikutnya suami baru dapat panggilan kerja di perusahaan baru, maka selama satu bulan, kami harus makan uang tabungan, perhiasan serta uang DP rumah pun habis terpakai, untuk biaya perawatan saya serta buat biaya hidup lainnya.

Uang lima belas juta, bukanlah nominal yang “wah” bagi kami kala suami masih di perusahaan lama. Namun, ketika masa transisi, uang lima belas juta itu amat sangatlah menggiurkan, mengingat kondisi kami yang sudah tidak seperti dulu lagi.

Andai saya sebagai istri khilaf, dan memaksa suami untuk mengambil saja uang itu, saya yakin suami pasti mengambilnya. Tapi saya sadari, saya adalah penyebab suami saya masuk neraka.

Saat itu, Allah benar-benar menguji keimanan kami berdua. Uang sudah menipis, gajian pun masih jauh, biaya hidup di Balikpapan yang sangat mahal, ditambah lagi hidup di kota  besar, membuat hal mustahil apabila kami menolak uang dengan nominal yang tidak sedikit.

Apalagi saya yang sebelumnya terbiasa konsumtif, membeli sesuatu tanpa harus berpikir dua kali, benar-benar sulit menerima keputusan suami yang minta resign dari posisi yang sudah nyaman dari perusahaan lamanya.

Sebagai istri saya hormati keputusan suami. Walaupun harus siap dengan kondisi baru yang hasil pendapatannya tak seberapa jika dibandingkan sebelumnya.

Saya kerap katakan pada suami, kalau untuk saya dunia ini bukanlah segala-galanya untuk, saya memanglah suka perhiasan, shopping, di mall, makan-makan di restaurant elegan, beli apa sajakah yang saya inginkan.Namun tahu batasan mana yang perlu saya ambillah bagiannya sampai tak makan duit yang bukanlah jadi hak kami.

Banyak suami yang terlilit masalah korupsi, untuk memenuhi tuntutan istrinya yang minta ini itu tanpa memikirkan dua kali  itu duit siapa, halal atau tidak.

Lantaran pada intinya lelaki terutama suami, miliki perasaan menginginkan senantiasa membahagiakan istri dan anak-anaknya seperti yang dikutip dari islamidia.com.

Bila wanita tidak dapat bertindak sebagai istri yang dapat menyelamatkan suaminya dari bahaya maksiat satu diantaranya korupsi, jadi saksikan saja, dibuatnya sang suami lupa daratan, lupa kalau hak orang tidak harusnya dipakai untuk kebutuhan pribadi.

Istri semestinya sadar, kalau ia penentu kebaikan suaminya, ia memegang fungsi juga penting dalam ketentuan rumah tangga. semestinya ia sadar, kalau suaminya nantinya mesti mempertanggungjawabkan tindakannya.

Sangat banyak istri yg tidak mempedulikan hal semacam itu, mungkin saja lupa pada pengucapan Nabi, kalau penghuni paling banyak di neraka yaitu wanita.

Tidak sedikitkah  dia memikirkan suaminya nantinya disiksa buah dari hasratnya yang silau bakal dunia.

Seseorang suami terkadang memanglah dilematis hadapi keadaan istrinya yang minta perlengkapan elegan, perhiasan, serta kemewahan yang lain. Tak dituruti ngancamnya minta cerai, sebagian geram dan menekuk muka sampai 180° celcius.

Perasaan lelaki itu membuat perlindungan serta menginginkan membahagiakan, jadi saat sang istri menuntutnya mesti begini serta demikian harus, lama kelamaan tentu sang suami dipengaruhi juga.

Seorang suami juga sebaiknya ingat, kalau dia yaitu pemimpin dalam rumah  tangganya, pengambil ketentuan paling besar, dan orang yang pertama kalinya disuruhi pertanggungjawaban di akhirat nantinya.


Tak semestinya lemah, taat serta tunduk pada tekad dan perintah istri yang mana perintah itu mengakibatkan dia jadi penghuni neraka Jahanam.

Pemimpin itu mesti kuat dan tegas dalam memutuskan, bukan hanya ketentuan masalah dunia, namun juga ketentuan akhirat. Sayang istri bisa, namun bukanlah demikian langkahnya. Ikuti kemauannya dengan cara membabi buta, tidak mematuhi koridor syar’i yang sudah Allah tentukan.

Suami itu imam untuk keluarganya, jadi makmum harus ikuti imam, jika imam lakukan kekeliruan, makmumlah yang mengingatkan.

Bukanlah jadi demikian sebaliknya. Makmum memerintahkan imam lakukan pelanggaran serta kekeliruan eh imamnya jadi manut pada makmum.

Logika darimana ini? Ingatlah wahai para suami, ingat waktu kedepannya kalian dihadapkan serta di tanya Allah tentang nafkah yang kalian berikan pada istri serta anak-anak kalian, apakah tega kalian menjawab,

“Dari hasi korupsi ya Allah, dari hasil merampas hak orang, dari hasil menipu serta dari hasil perbuatan-perbuatan haram yang Engkau larang”

Begitukah kalian akan menjawab pertanyaan Allah nantinya, wahai para suami? Atau kalian bakal menjawab saat di tanya kenapa hal itu kalian kerjakan,

“Karena sayang istri ya Allah, takut ditinggalkannya, atas perintah istri”

Baguskah jawaban yang seperti itu bila dilontarkan dihadapan sang Khalik? Pantaskah kalian menjawab dikarenakan lebih takut pada istri dari pada terhadap Allah?

Apakah benar jawaban kalian wahai para suami lakukan maksiat atas perintah istri? Istri juga harusnya sekian, baiknya berpikirlah sebelumnya memerintah serta menyuruh suami lakukan perbuatan yang dilarang Allah.

Istri… gunakan iman serta logikamu, jangan sampai ingin diperbudak nafsu. Kesenangan serta kemewahan hidup didunia dari suatu hal yang haram dan gemerlap hidup yang anda rasakan tidak bertaham lama,  tidak akan membawa kemuliaan bagimu. Kamu dimuliakan didunia saja, dimuliakan oleh manusia bukanlah oleh Allah.

Anda tampak, memukau dengan perhiasan mewahmu, dengan kemewahan-kemewahan lain yang anda pamerkan dan anda pakai namun anda yaitu seseorang durjana nista di mata Allah! Itu kah yang anda berharap?

Apa yang anda cari wahai  istri? Hidup ini sebentar, tidak kasihankah kamu pada suamimu bila nantinya mesti disiksa buah dari perbuatanmu?

Cobalah kau tatap muka suamimu waktu dia tertidur, muka lelahnya yang memikul beban hidup untuk kebahagiaanmu serta anak-anakmu, suamimu lembur, dimarahi atasannya, pulang ke rumah anda cerca lagi dengan kemauanmu yang penuh kemanjaan dan keserakahan.

Anda seret suamimu lakukan perbuatan haram untuk ego mu, gengsi hidup yang kau utamakan, melupakan kewajibanmu sebagai pengingat atas kekeliruan imammu, malah anda yang mendorong suamimu masuk neraka.

Tak dapatkah anda memikirkan sedikit saja, jika lelaki yang kau sebut-sebut sebagai belahan jiwamu nantinya menahan siksa api neraka akibat nafkah haram yang diberikannya akibat kemauanmu dan tuntutanmu yang sangat banyak?

Kasihanilah suamimu wahai istri, ingatlah penghuni neraka banyak dihuni oleh golongan kita.

Janganlah kamu utamakan gengsi, Allah  tidak akan mengajukan pertanyaan seberapa gengsimu waktu  didunia, Allah bertanya tanggung jawab serta perananmu sebagai istri.

Apa yang bakal anda jawab saat Allah ajukan pertanyaan nantinya,

“Mengapa anda jerumuskan suamimu lakukan perbuatan haram? ”

Anda bakal menjawab apa wahai istri?

Berpikirlah.

Sadarlah.

Sadar, kalau hidup ini sebentar. Anda mulia bahkan juga bidadari surga juga cemburu pada kemuliaanmu, janganlah anda mengakibatkan kerusakan kemuliaan itu. Ajak serta gandenglah suamimu menuju jalan ke surga. Itu tambah baik bagimu.

Tak perlu dengarkan apa kata orang, jalani  hidupmu dengan jalan yang telah Allah tetapkan. Janganlah hak orang lain kau rampas untuk harta serta gemerlap yang dunia janjikan.

Janganlah! Wahai istri, di surga sana banyak sekali perhiasan elegan yang lebih elegan dari apa yang anda gunakan waktu didunia, banyak beberapa tempat indah dari pada sebatas tempat yang kau kunjungi didunia.

Memikirkan serta sadarlah, uang haram buah dari tuntutanmu pada suamimu, bakal memgaliri darah anak-anakmu.

Ingatlah pada maksud hidupmu. Dunia ini bakal kiamat serta anda bersiaplah memetik dari apa yang anda tanam. Neraka itu panas. Pernahkan tanganmu melepuh wahai istri? Bagaimana rasanya? Panas, bukan?

Jadi neraka lebih panas serta bukan sekedar melepuhkan kulit halusmu, namun menghancurkan sampai tulang belulangmu. Ingatlah itu!

Jadi. Benar sekali apa yang Rasulullah katakan, jika menikah dengan wanita jadi pastikan yang terbaik agamanya, meski tak melupakan tiga pilihan terlebih dulu.

Lantaran wanita yang besar kesadaran bakal perintah agamanya tentu akan tidak menjerumuskan lelakinya pada lembah kemaksiatan.

Mudah-mudahan semakin lebih banyak lagi istri yang betul-betul sayang pada suaminya, bukan hanya sayang untuk hal duniawi, namun sebenar-benarnya sayang sampai berbuah syurga serta selalu menahan suaminya supaya tak lakukan perbuatan sampai tidak mematuhi batas syar’i seperti yang Allah tentukan dalam Al Qur’an.

Insya Allah. Aamiin..