Bagaimanakah Hukum Haji Bagi Anak-anak Yang Belum Baligh?
Cari Berita

Advertisement

Bagaimanakah Hukum Haji Bagi Anak-anak Yang Belum Baligh?

8/2/18

Menunaikan haji adalah salah satu dambaan bagi umat muslim. Meskipun Islam hanya memberikan tuntutan kewajiban bagi yang telah mampu, namun hal itu tidak menyurutkan setiap muslim untuk memiliki keinginan dan usaha mengumpulkan materi demi dapat melaksanakan rukun Islam yang kelima ini.

Sedangkan bagi umat muslim yang telah memiliki cukup materi, mereka pun dapat segera menunaikan ibadah haji, bahkan tidak jarang ada pula yang mampu semua anggota keluarganya. Anak-anaknya yang belum baligh pun tidak luput ikut menunaikan ibadah haji.

Menunaikan ibadah haji dengan seluruh anggota keluarga lengkap, termasuk anak-anak, merupakan hal yang lazim terjadi sekarang ini. Selain alasan tidak tega meninggalkan mereka dalam waktu lama, ibadah haji juga diharapkan dapat memberikan pengalaman dan pemahaman lebih dalam soal penerapan nilai Islam dalam kehidupan mereka.

Lalu, bagaimana sebetulnya hukum ibadah haji untuk anak-anak, mengingat mereka belum masuk usia akil/baligh seperti yang menjadi ketentuan pada ibadah lain seperti salat dan puasa?

Salah satu syarat wajib berhaji adalah akil/baligh. Siapa pun yang belum menginjak usia baligh maka belum dikenai kewajiban berhaji, begitu juga dengan anak-anak. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW:

“Pena diangkat (kewajiban tidak diberlakukan) terhadap tiga (golongan), terhadap anak kecil hingga baligh, terhadap orang gila hingga sadar (sembuh), dan dari orang tidur hingga bangun.” (HR. Abu Daud, 4403 dan Ibnu Majah, 2041)

Dari hadis di atas, bisa kita ketahui dengan jelas bahwa hukum ibadah haji bagi anak adalah tidak wajib.

Lalu, apakah haji mereka sah dan diterima? Meskipun bukan sesuatu yang wajib, anak kecil yang sudah menjalankan ibadah haji tetap mendapat pahala sebagaimana orang dewasa.

Dikutip dari islami.co Abbas  pernah meriwayatkan hadis

عن النبي صلى الله عليه وآله وسلم أنه لقي رَكبًا بالرَّوحاء، فقال: «مَنِ القَومُ؟» قالوا: المسلمون، فقالوا: مَن أنت؟ قال: «رسولُ اللهِ»، فرَفَعَت إليه امرأةٌ صَبِيًّا، فقالت: ألهذا حجٌّ؟ قال: «نَعَم، ولكِ أَجرٌ» رواه مسلم.

Dari Nabi saw, bahwasannya beliau bertemu dengan suatu rombongan di Rauha’, lalu beliau bertanya: “Kelompok siapa?” mereka menjawab: “Orang-orang muslim.” Merekapun bertanya: “Siapa kamu?” “Utusan Allah” jawab Nabi saw. Seorang perempuan (diantara mereka) mengangkat anak kecil (menunjukkan) kepada Nabi saw. Lalu ia bertanya: “Apakah (anak kecil) ini juga melaksanakan haji?’ Nabi Saw menjawab: “iya, dan kamu pun mendapatkan pahala.” (HR. Muslim).

Berdasarkan hadis tersebut, maka ulama dari kalangan Syafiiyyah, Malikiyyah dan Hanabilah mengatakan bahwa anak kecil itu hajinya sah, tetapi dianggap haji sunnah.

Yakni belum menggugurkan kewajiban haji yang menjadi rukun Islam yang kelima. Karena salah satu syarat wajibnya haji adalah telah memasuki usia balig.

Dengan demikian, mayoritas ulama mengatakan bahwa hajinya anak kecil itu sah, namun belum menggugurkan kewajiban haji, yakni dianggap haji sunnah, bukan haji wajib.

Tetapi dengan catatan anak kecil itu melakukan rukun-rukun dan kewajiban haji dengan sempurna.

Adapun niat ihramnya, boleh bagi walinya untuk meniatkan ihram anak kecilnya baik telah mumayyiz (dapat membedakan mana yang baik dan tidak/ minimal bisa cebok sendiri), atau tidak.

Yakni wali (orang tuanya) tersebut niat ihram di dalam hatinya untuk anak kecil itu “Aku niat ihram untuk dia/ahramtu anhu”.

Dan bagi anak kecil yang belum balig tersebut ketika menunaikan ibadah haji harus mendapatkan izin dari walinya, bapak atau kakeknya.