Jangan Pamer Ibadah, Inilah Ciri-Ciri, Cara Menghindari dan Bahaya dari Sifat Pamer
Cari Berita

Advertisement

Jangan Pamer Ibadah, Inilah Ciri-Ciri, Cara Menghindari dan Bahaya dari Sifat Pamer

8/2/18


Pamer atau riya secara bahasa adalah memperlihatkan amal kebaikan kepada orang lain. Menurut istilah riya adalah memperlihatkan ibadah dengan maksud dan tujuan dilihat manusia dan mengharapkan pujian atas apa yang diperlihatkannya itu. Riya berasal dari kata ru’yah yang berarti penglihatan. Dari asal katanya riya dapat dipahami sebagai sikap atau perilaku yang ingin dilihat atau diperlihatkan kepada orang lain. Tujuannya untuk memperoleh pujian, penghargaan, dan posisi tertentu dalam hati manusia. Sebagian ulama mendefinisikan riya sebagai menginginkan kedudukan dalam hati manusia dengan cara memperlihatkan berbagai kebaikan kepada mereka.

Seperti yang dilansir dari duniaislamkami.blogspot orang yang berjuang atau beribadah demi sesuatu yang bukan ikhlas karena Allah SWT, dalam agama juga disebut riya. Meskipun demikian, orang yang memiliki sifat riya dapat dilihat dari ciri-cirinya.

Di antara ciri-ciri sifat riya sebagai berikut.

Image result for ciri ciri orang yang memiliki sifat riya

1. Merasa senang dan ringan dalam melaksanakan ibadah jika dilihat orang lain.
2. Merasa senang jika perbuatannya mendapat pujian dari orang lain.
3. Ada perubahan sikap, gaya bicara, dan penampilan jika berhadapan dengan penguasa.

Berhati-hatilah jika salah satu ciri riya yang telah disebutkan terdapat dalam diri. Jika salah satu ciri riya terdapat dalam diri, benahi niat bahwa ibadah yang kita lakukan hanya untuk Allah SWT . Perbaiki niat jika rasa senang telah terasa ketika perbuatan yang kita lakukan mendapat pujian orang lain.

Inilah Cara-Cara Menghindari Perilaku Riya:

Image result for ciri ciri orang yang memiliki sifat riya

1. Menghilangkan Sebab-Sebab Riya

Seseorang berbuat riya disebabkan oleh hal-hal tertentu. Untuk menghilangkan dan menghindari riya, penyebab riya harus dihilangkan. Jika penyebab riya tidak dihilangkan, riya tidak akan pernah hilang dari dalam hati. Membiarkan penyebab riya bersarang dalam hati sama dengan membiarkan riya tumbuh dan berkembang. Oleh karena itu, seseorang yang ingin menghilangkan riya dari hati harus menghilangkan penyebabnya. Jika sebab-sebab riya telah hilang, perilaku riya akan hilang dengan sendirinya.


2. Mengikhlaskan Ibadah untuk Allah SWT 

Manusia dikaruniai Allah SWT nikmat yang berlimpah. Hidup dan kehidupan merupakan karunia yang tidak ternilai harganya. Oleh karena itu, pantaslah jika manusia melaksanakan ibadah kepada Allah SWT. Sebagai wujud rasa syukur atas karunia dan nikmat-Nya. Ibadah harus dilaksanakan dengan ikhlas hanya untuk Allah SWT . Hidup, mati, dan ibadah hanya untuk Allah SWT, zat yang mengaruniakan hidup dan kehidupan. Ibadah yang dilakukan dengan ikhlas akan menhindarkan diri dari Riya.


3. Berusaha Melawan Bisikan Setan

Seseorang yang melaksanakan ibadah harus berusaha untuk melawan bisikan setan. Setan selalu mengajak manusia untuk berbuat buruk, termasuk riya. Bisikan setan harus terus-menerus dilawan karena mereka tidak berhenti menggoda sekejap pun. Jangan sekalikali menuruti ajakan setan sebab ia akan menyengsarakan manusia baik di dunia maupun di akhirat. Jika setan telah mengajak untuk berbuat riya, kita harus segera memperbaiki niat dan mengembalikannya hanya untuk Allah SWT.


4. Menyadari bahwa Hanya Allah SWT yang Memberi Balasan

Setiap amal manusia akan mendapat balasan yang sesuai. Amal kebaikan akan mendapat balasan yang baik. Amal buruk akan mendapat balasan buruk pula. Kesadaran bahwa hanya Allah SWT yang dapat memberi balasan merupakan cara menghilangkan dan menghindari riya dari hati. Manusia tidak akan mampu memberi balasan terhadap amal yang dilaksanakan oleh sesamanya. Hanya Allah SWT yang mampu memberi balasan terhadap amal perbuatan makhluk-Nya.

5. Selalu Mengingat Akhirat

Akhirat merupakan tempat kita hidup yang lebih kekal dibandingkan kehidupan di dunia. Maka, kita semua pasti menginginkan mendapat kelapangan dan ketenangan di akhirat nanti. Oleh karena itu, kita harus selalu beramal baik dan menjaga agar amal itu bernilai pahala di hadapan Allah SWT. Dengan kita selalu mengingat akhirat, kita akan merasa takut berbuat riya dan melakukan cara merubah kepribadian menjadi lebih baik lagi karena tidak ingin pahala amal ibadah kita terkikis habis akibat sifat riya.

Perbuatan yang dilakukan dengan riya berarti dilaksanakan tidak ikhlas karena Allah SWT. Ia berniat melakukan suatu perbuatan untuk selain Allah SWT. Oleh karena itu, riya juga dikategorikan sebagai syirik kecil. Hal tersebut disebabkan orang yang riya beribadah tetapi menduakan Allah SWT. Ia melaksanakan perbuatan dengan tujuan memperoleh pujian dari manusia. Menduakan Allah SWT dengan makhluk merupakan perbuatan syirik khafiy (tersembunyi). Riya sangat berbahaya jika ada dalam hati seseorang. Dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman seperti berikut.

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ . الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ . الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ

Artinya: Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya, orang-orang yang berbuat riya. (Q.S.al-Ma‘un [107]: 4–6)

    Berdasarkan ayat di atas dapat kita ketahui bahwa orang-orang yang memiliki sifat riya termasuk orang yang celaka. Mereka melaksanakan ibadah tidak ikhlas karena Allah SWT. Mereka melaksanakan ibadah hanya untuk mendapat pujian dari sesama.


Bahaya-bahaya yang ditimbulkan dari sikap riya’ adalah :

Image result for ciri ciri orang yang memiliki sifat riya

a. Terhadap diri sendiri
1). Selalu tidak ada puasnya, sekalipun hidupnya sudah berkecukupan sehingga berpotensi untuk korupsi dan mengambil hak orang lain
2). Selalu ingin dipuji dan dihormati
3). Ketidakpuasan, sakit hati dan penyesalan ketika lain tidak dihargai.
4). Sombong dan membanggakan diri
5). Tidak dapat bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah dan dalam  berinteraksi
      dengan sesama manusia.
6). Menyesal jika telah melakukan perbuatan baik hanya karena tidak ada orang lain yang
      melihatnya atau tidak ada imbalannya
7). Jiwanya akan terganggu karena kegelisahan/keluh kesah yang tiada henti
8). Di akhirat akan dicampakkan ke dalam api neraka.

b. Terhadap orang lain
1). Berpotensi saling bermusuhan, karena ia mengungkit apa yang yang diberikannya kepada
      orang lain.
2). Memamerkan amalnya kepada orang lain, sehingga orang lain menjadi benci dan tidak
      senang terhadapnya
3). Sikap dan perilakunya yang ria akan berpotensi menimbulkan pertikaian dan akhirnya
      menimbulkan pengrusakan

Ketika dipuji, kita cukup berterima kasih sebagai cara menjaga perasaan orang lain dan cara menghargai orang lain yang memuji. Di samping itu, kita bisa menjadikan pujian dari orang lain sebagai acuan untuk jadi lebih baik lagi dan lebih bersyukur atas bantuan Allah SWT  yang telah menutup keburukan atau aib yang kita miliki.

Memang tidak mudah untuk menghilangkan sifat riya’ yang diam-diam meracuni hati kita. Oleh karena itu, kita harus selalu bermuhasabah untuk memperbaiki diri dan bertaubat kepada Allah SWT untuk memohon ampunan-Nya atas segala kekhilafan yang telah kita lakukan.