Jenazah Teroris Harus Dishalati atau Tidak? Hal Ini yang Harus Dilakukan
Cari Berita

Advertisement

Jenazah Teroris Harus Dishalati atau Tidak? Hal Ini yang Harus Dilakukan

mas irwan
8/7/18


Semua orang pasti prihatin dengan kejahatan teroris yang menewaskan korban jiwa karena salah memahami nilai-nilai agama. Aksi teror merupakan salah satu kejahatan luar biasa. Semoga saja kejahatan teror di Indonesia tidak terulang lagi.

Para ulama telah sepakat, dianjurkan menshalati jenazah Muslim dan Muslimah sebagaimana keterangan Ibnu Rusyd berikut ini:

“Ulama menyepakati kewajiban pemakaman jenazah. Kewajiban ini didasarkan pada Surat Al-Mursalat ayat 25-25 yang terjemahannya ‘Bukankah Kami menjadikan bumi (tempat) berkumpul, orang-orang hidup dan orang-orang mati?’ dan Surat Al-Maidah ayat 31 yang terjemahannya, ‘Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi,’” (Lihat Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 2013 M/1434 H], halaman 227).

Dilansir dari situs madinatuliman.com dari keterangan diatas, dapat disimpulkan bahwa pemakaman jenazah Muslim dan Muslimah adalah wajib walaupun dia teroris. Selain itu, pengurusan jenazah mulai dari pemandian, pengafanan, penshalatan, hingga pemakaman adalah kewajiban bagi mereka yang masih hidup.

Bagaimana dengan pelaku teroris yang termasuk menjadi korban atas kejahatan terornya sendiri? Ibnu Rusyd dalam Bidayatul Mujtahid menerangkan bahwasanya selagi jenazah adalah orang yang mengucap syahadat pada waktu hidupnya, maka mereka yang hidup mempunyai kewajiban mengurus jenazahnya walaupun yang si jenazah pernah melakukan perbuatan jahat dan keji semasa hidupnya.

وأجمع أكثر أهل العلم على إجازة الصلاة على كل من قال لا إله إلا الله. وفي ذلك أثر أنه قال عليه الصلاة والسلام “صلوا على من قال ” لا إله إلا الله ” وسواء كان من أهل كبائر أو من أهل البدع، إلا أن مالكا كره لأهل الفضل الصلاة على أهل البدع، ولم ير أن يصلي الإمام على من قتله حدا. ومن اirلعلماء من لم يجز الصلاة على أهل الكبائر ولا أهل البغي والبدع. وأما كراهية مالك الصلاة على أهل البدع فذلك لمكان الزجر والعقوبة لهم.

“Mayoritas ulama sepakat membolehkan umat Islam untuk menyembahkan jenazah setiap orang yang mengucapkan “Lâ ilâha illallâh” baik jenazah itu pelaku dosa besar maupun ahli bid‘ah. Hanya saja Imam Malik memakruhkan orang-orang terpandang atau terkemuka untuk ikut menyembahyangkan jenazah ahli bid’ah. Tetapi Imam Malik tidak berpendapat perihal pemerintah menyembahyangkan jenazah mereka yang terkena hukuman mati (hudud). Bahkan sebagian ulama tidak memperbolehkan masyarakat menyembahyangkan jenazah pelaku dosa besar, pelaku zina, dan pelaku bid‘ah. Pilihan makruh oleh Imam Malik lebih pada kecaman dan sanksi (sosial) untuk mereka,” (Lihat Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 2013 M/1434 H], halaman 223).

Jadi kita dapat menyimpulkan, bahwasanya jenazahnya teroris, koruptor, pelaku zina, pembunuh, pelaku bunuh diri, dan pelaku kejahatan lainnya selagi ia mengucap syahadat dan tidak mencabut syahadatnya sampai wafat ia tetap memiliki hak untuk dimandikan, dikafankan, dishalatkan, dan dimakamkan sebagaimana jenazah lainnya.