Ramna Wanita Korban Gempa Palu yang Sudah Ditelan Bumi Tapi Dimuntahkan Lagi
Cari Berita

Advertisement

Ramna Wanita Korban Gempa Palu yang Sudah Ditelan Bumi Tapi Dimuntahkan Lagi

M Yazidinniam
10/22/18


Ilustrasi gambar opsisi.net

Allah masih beri saya kesempatan untuk hidup


"Alhamdulillah saya masih bisa bersyukur Ya Alllah keluar dari rekahan tanah yang menenggelamkan saya"

Gempa di Sulawesi Tengah masih menyisakan banyak cerita pilu. Di antaranya kisah Ramna, korban gempa Palu yang selamat dari likuefaksi.

“Saya sudah masuk dalam rekahan bumi yang tiba-tiba terbelah, namun saya kemudian didorong ke atas oleh tanah yang ada di dalamnya,” kata Ramna (33), warga Petobo yang selamat dari bencana likuefaksi di Sulawesi Tengah ( Sulteng), Jumat (19/10/2018).

Ramna mengira akan mati tertelan bumi saat gempa bumi bermagnitudo 7,4 di Sulteng.

Namun ia masih diberi kesempatan untuk meneruskan kehidupan ini.

Ia selamat bersama sejumlah tetangganya yang kini mengungsi di depan komplek pekuburan Petobo.

Padahal banyak warga Petobo yang menjadi korban likuefaksi, mereka tenggelam dalam tanah yang mereka pijak yang tiba-tiba menjadi lumpur saat digoyang gempa hebat.

“Jika tidak dimuntahkan lagi oleh tanah, saya pasti tenggelam dalam lumpur. Saya bersyukur masih diberi kesempatan hidup,” ujar Ramna sambil mencuci alat masaknya.

Baca juga : Jangan Jadi Muslim yang Merugi, Rajin Shalat Tapi Shalatnya Tidak Pernah Dicatat, Ini Penyebabnya

Muncul Dari Dalam Tanah Karena Pohon Tumbang

Sumber gambar islamidia.com

Untuk keluar dari bencana ini, Ramna mengaku tertolong oleh pohon yang tumbang.

Saat ia didesak ke atas oleh tanah dalam rekahan, ia sempat meraih cabang pohon yang tumbang di atasnya.

Lewat kayu inilah ia sekuat tenaga berdiri dan keluar dari rekahan tanah.

Setelah berada di atas, secepatnya ia keluar dari “neraka” lumpur Petobo dan mencari tempat yang aman.

Untungnya dari tempatnya ini tidak jauh ada lokasi yang aman.

Namun malang bagi mertuanya, Harina (60), wanita bertubuh besar ini terseret dalam puing-puing rumahnya dan meluncur ke bagian bawah.

Di dalam puing ini ia tidak sendiri, ada Rollly (39), anak Harina dan Vini (16) anak Ramna yang tinggal dengan neneknya.

“Rolly memang cacat sejak lama, ia tidak bisa apa-apa dalam menghadapi bencana ini,” tutur Ramna.

Terjebak dalam puing-puing rumah membuat Harina, Rolly dan Vini tidak bisa apa-apa meskipun mereka berusaha keras ingin keluar dari himpitan beton.

Yang tragis adalah, saat terhimpit reruntuhan rumah, ketiga korban bersama material yang menghimpitnya ini hanyut terbawa arus lumpur ke bagian bawah.

Untunglah posisi puing berada di bagias atas sehingga mereka tidak tertimbun lumpur dan puing lainnya.

Malam itu Arifin, anak Harina yang menjadi suami Ramna mencari mereka dalam lumpur yang masih basah.

Bersama warga lainnya mereka menyisir puing-puing bangunan yang bercampur lumpur.

Suara erangan kesakitan dan minta tolong bergema di mana-mana, semua berusaha menolong apa yang bisa diselamatkan.

“Saya dapatkan ibu terjebak dalam reruntuhan, ia tidak bisa keluar karena kaki dan badannya terjepit,” kata Arifin.

Rolly dan Vini lebih dulu dievakuasi, dan segera mendapatkan perawatan di tempat yang lebih baik.

Namun nenek Harina masih harus berjuang untuk bisa keluar dari kubangan lumpur yang nyaris menenggelamkan seluruh tubuhnya.

“Ibu saya badannya gemuk, sudah tua, ia sangat lemah,” tutur Arifin.

Jumat malam itu Arifin sekuat tenaga menyingkirkan beton yang menghimpit ibunya, tidak mudah bagi Arifin, apalagi lumpur cair mengubur sebagian besar tubuh orang yang sangat dicintainya ini.

“Dalam fikiran, saya harus menyelamatkan ibu, saya rela mati untuk ibu saya, apapun akan saya lakukan,” tutur Arifin di pengungsian.

Dengan berbagai alat yang dipunyai, ia membongkar sedikit demi sedikit material beton yang mengurung ibunya.

Lapar dan haus tidak dihiraukan, semua orang yang menolong keluarganya di sini merasakan yang sama.

Tidak ada bantuan dari manapun, Arifin dan masyarakat Petobo berjuang sendiri-sendiri untuk menyelamatkan keluarganya dari penderitaan yang memilukan ini.

“Semua lapar, termasuk ibu. Saya memberi makan jajanan anak yang berasal dari puing-puing warung yang ikut hanyut tidak jauh dari tempat ibu terjepit,” papar Arifin.