Dilamar Pria Shalih Untuk Dijadikan Istri Kedua, Haram Untuk Ditolak? Ini Kriterianya Untuk Istri Kedua
Cari Berita

Advertisement

Dilamar Pria Shalih Untuk Dijadikan Istri Kedua, Haram Untuk Ditolak? Ini Kriterianya Untuk Istri Kedua

12/10/18



Bagaimana jika seorang wanita dipinang menjadi istri kedua sedangkan yang melamarnya adalah pria shalih baik nasab dan ahlaqnya ?

Jika Suami berpoligami, bisa mencari istri yang punya kriteria seperti ini.

Saat seorang pria mendatangi wanita untuk dilamar, maka wanita ini memiliki hak untuk menerima atau menolaknya.

Seorang wanita boleh menolah lamaran pria yang melamarnya baik bersifat syar'i maupun pribadi, jika lamaran pria terhadap wanita itu dipaksakan, bisa jadi akan timbul masalah di kemudia hari.

Lantas bagaimana jika seorang wanita dipinang menjadi istri kedua sedangkan yang melamarnya adalah pria shalih baik nasab dan ahlaqnya ?

Didalam hadits dijelaskan akan terjadi fitnah bila seorang wanita menolak lamaran pria shalih, perlu di fahami dan digaris bawahi.

Hadits ini bukan dalam posisi yang menetapkan bahwa sebuah lamaran dari pria yang shalih haram ditolak , bukan seperti itu pemahamannya.

Sebab kalau demikian, bagaimana dengan lamaran seorang laki-laki shalih kepada seorang puteri raja atau pembesar, di mana kedua tidak sekufu atau memang tidak saling cocok satu dengan yang lain? Apakah puteri raja itu berdosa bila menolak lamaran dari seorang yang tidak disukainya?

Dari Ibnu Abbas ra.: Sesungguhnya istri Tsabit bin Qais datang kepada Rasulullah SAW, ia berkata: Wahai Rasulullah, “Aku tidak mencelanya (Tsabit) dalam hal akhlaknya maupun agamanya, akan tetapi aku benci kekufuran (karena tidak mampu menunaikan kewajibannya) dalam Islam.”

Maka Rasulullah SAW berkata padanya, “Apakah kamu mengembalikan pada suamimu kebunnya?” Wanita itu menjawab, “Ya.” Maka Rasulullah SAW berkata kepada Tsabit, “Terimalah kebun tersebut dan ceraikanlah ia 1 kali talak.” (HR Bukhori, Nasa’y dan Ibnu Majah. Nailul Authar 6/246)

Agar tidak menjadi fitnah, tentu ada cara penolakan yang halus dan lembut, tanpa menyinggung perasaan, namun si pelamar itu bisa menerima intisarinya, yaitu penolakan. Sehingga fitnah yang dikawatirkan itu tidak perlu terjadi.

Ada Kriteria Khusus Jika Ingin Memiliki Istri Kedua (Poligami) ?

Cantik, masih muda, berpendidikan tinggi, dan sudah memiliki penghasilan sendiri.

Seperti inilah rata-rata kriteria wanita yang akan dijadikan istri kedua, entah masih gadis atau sudah janda yang jelas akan bertolak belakang dari istri pertama.

Benarkah demikian yang banyak dijumpai sekarang? Percayalah, kecenderungan itu pasti muncul.

Siapkah laki-laki jujur dan menanggung konsekuensinya? 

Beberapa berjanji, tak akan meninggalkan anak-anak ketika memiliki istri yang berikut; nyatanya tak selalu kondisi ekonomi stabil.

Keharusan mencari nafkah bagi dua istri menyebabkan waktu semakin tersita. Dua dapur dan dua keluarga tentu membutuhkan lebih banyak supplai finansial. Belum lagi perselisihan yang menguras emosi. Antar kedua istri, antar kedua keluarga, antar anak-anak.

Ujung-ujungnya, poligami yang disalahkan; tuh kan, anak-anaknya nakal. Keluarga morat marit. Bapaknya kawin lagi sih!

Lalu bagaimana?

Bila, memang poligami akan dilakukan, bisakah seorang suami menceritakan secara jujur apa yang nanti akan terjadi; keuangan, waktu, urusan ranjang, kecenderungan hati, anak-anak dan seterusnya?

Bila berkomitmen akan bertanggung jawab terhadap segala konsekuensi, bisakah ia menepati janji-janjinya?

Dan bila ingin seperti Rasulullah Saw, bisakah istri kedua adalah gadis-gadis yang sudah sangat matang dalam kesendirian. Janda-janda beranak banyak yang kurang mampu. Perempuan-perempuan tak cantik yang memang tidak dilirik laki-laki.

Bisakah sang istri pertama tetap perempuan yang jauh lebih cantik, lebih muda, lebih terhormat?

Atau mau jujur bahwa dalam petualangan kali ini, pernikahan disimbolkan demikian; istri pertama untuk keprihatinan, istri kedua untuk bersenang-senang. Kalau demikian halnya, janganlah membawa nama sunnah rasulullah saw sebagai alasan poligami.

Sebab sunnah Rasulullah juga berbareng dengan kewajiban untuk menghargai ibu dari anak-anak; perempuan yang berbakti terhadap suami, istri yang sehari-hari menyisihkan seluruh kepentingan pribadinya untuk suami tercinta.