Hobi Debat Bisa Jadi Sesat Karena Hati Akan Mengalami Hal Ini
Cari Berita

Advertisement

Hobi Debat Bisa Jadi Sesat Karena Hati Akan Mengalami Hal Ini

12/25/18

bantenpos.co

Sama sekali tidak ada manfaat dan faedahnya ketika dua orang yang saling membicarakan sesuatu hal lantas mereka berdebat.

Selain itu tidak ada obrolan ketika semangatnya untuk saling menjatuhkan satu sama lain, bukan untuk mencari kebenaran.

Mendiskusikan ilmu itu baik dan penuh manfaat, teteapi memperdebatkannya itu amatlah buruk.

Imam Malik rahimahullah berkata, “Perdebatan tentang ilmu itu membuat hati keras dan menimbulkan kedengkian.”

Imam Syafi’i rahimahullah juga mengingatkan kita, “Percekcokan dalam agama itu mengeraskan hati dan menanamkan kedengkian yang sangat.”

Renungilah sejenak hadis riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah; Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوْا عَلَيْهِ إِلاَّ أُوْتُوْا الْجَدَلَ، ثُمَّ قَرَأَ : مَا ضَرَبُوْهُ لَكَ إِلاَّ جَدَلاً

“Tidaklah sebuah kaum menjadi sesat setelah mereka dulunya berada di atas hidayah kecuali yang suka berdebat.” Lalu beliau membaca (ayat): “Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Bagaimana Bisa Karena Debat Bisa Menyesatkan dan Memperkeras Hati



Berdebat kusir yang mengeraskan hati dan meredupkan cahaya hidayah. Malik rahimahullah berkata,

الْمِرَاءُ فِي الْعِلْمِ يُقَسِّي الْقُلُوبَ وَيُوَرِّثُ الضَّغَائِنَ

"Berdebat dalam ilmu akan membuat keras hati dan mewariskan dendam." (Mukhtashar Tarikh Dimasqa Hal 11)

Berdebat juga bisa menjadikan seseorang menjadi sesat karena merupakan sebab Allah menginginkan keburukan pada seorang hamba.

Sebagian ulama berkata,
إذا أراد الله بعبد شراً أغلق عنه باب العمل وفتح له باب الجدل

"Apabila Allah menginginkan seorang hamba dengan keburukan, maka Ia akan menutup pintu amal dan membuka pintu perdebatan baginya." (Al-Hilyah 8/361)

Berdebat juga menimbulkan permusuhan, padahal sesama kaum muslimin itu bersaudara. Nabi Sulaiman 'alaihis salam berkata kepada anaknya,

يَا بُنَيَّ، إِيَّاكَ وَالْمِرَاءَ، فَإِنَّ نَفْعَهُ قَلِيلٌ، وَهُوَ يُهِيجُ الْعَدَاوَةَ بَيْنَ الْإِخْوَانِ

"Wahai anakku, tinggalkanlah mira' (jidal, mendebat karena ragu-ragu dan menentang) itu, karena manfaatnya sedikit. Dan ia membangkitkan permusuhan di antara orang-orang yang bersaudara." (Syu'abul Iman: 8076 Al-Baihaqi)

Nah. Maka salah satu bekal menuntut ilmu adalah menahan diri dari berdebat untuk maksud berbantah-bantahan dan menjatuhkan lawan bicara. Jika diskusi telah mengarah kepada mira’, sedapat mungkin kita mengingatkan. 

Tetapi jika tetap dalam perdebatan yang mengarah kepada sikap saling menjatuhkan saling mengolok, maka memilih untuk tidak melanjutkan perdebatan (mira’) itu jauh lebih utama meskipun beresiko disangka tak berani. 

Sangat berbeda penakut dengan menahan diri dari hal-hal yang membawa kerusakan (mafsadat).

Semoga bermanfaat.