Hukum Ucapan Selamat Natal Bagi Umat Muslim, Simak Ragam Pendapat Ulama
Cari Berita

Advertisement

Hukum Ucapan Selamat Natal Bagi Umat Muslim, Simak Ragam Pendapat Ulama

Cang Karna
12/25/18


Biasanya menjelang perayaan Hari Natal bagi orang-orang Nasrani akan banyak sekali pernak pernik yang akan di jajakan di tepi jalan untuk meramaikan Natal.

Tidak hanya orang-orang Nasrani saja, tidak sedikit pula orang muslim yang menghargai perayaan natal umat Nasrani dengan mengucapkan "Selamata Natal", namun banyak orang-orang muslim mempermasalahkan masalah ucapan selamat natal ini kepada umat kristiani.

Sebenarnya, Apa sih hukumnya ketika orang muslim mengucapkan selamat hari natal kepada orang nasrani?

Pertanyaan seperti ini pasti selalu muncul saat menjelang perayaan Hari Natal di Indonesia. Bahkan sudah banyak ulama yang membahas dan memperdebatkan untuk mencari solusi yang terbaik, apakah diperbolehkan atau dilarang untuk mengucapkan selamat natal bagi seorang muslim.

Karena menjadi kehebohan di banyak media mengenai persoalan ini, salah satu ulama yakni Quraish Shihab dan putrinya Najwa Shihab dalam salah satu acara yang ditayangkan di Youtube Narasi TV.'

Menurut QUraish Shihab masalah hukum mengucapkan Selamat Hari Natal kepada Umat Kristen hanya ada di Indonesia saja.



"Di Timur Tengah sudah hal lazim masyarakat mengucapkan selamat hari raya bagi umat beragama lain", ungkap beliau.

"Lantas bagaimana jika ada kekhawatiran mengucapkan selamat hari raya dapat mengurangi iman dan takwa kita?" tanya Najwa Shihab.

Hal tersebut dijelaskan dalam video berikut:




Sementara itu menurut pendapat Ustadz Abdul Somad, yang mana beliau sangat tidak setuju apabila kalimat Selamat Natal diucapkan oleh seorang Muslim.



Menurut Ustadz Abdul Somad, Ketika seorang muslim ucapkan Selamat Natal kepada Umat Kristen berarti ia sudah mengakui 3 hal yang menjadi keyakinan orang Nasrani.

1. Mengakui Isa Adalah Anak Tuhan.
2. Mengakui Jika Isa Lahir Pada 25 Desember.
3. Mengakui Jika Ia Mati Disalib.

Lanjut penjelasan Ustadz Abdul Somad bahwasannya ketiga-tiganya dibantah oleh Al Quran.

Sedangkan menurut penjelasan Profesor Muhammad Quraish Shihab yang disampaikannya pada tahun 2014 dalam program televisi "Tafsir Al Misbah" di salah satu televisi lokal.

Berikut isi transkrip penjelasannya pada program tersebut secara singkat.

Beliau ketika lama hidup di mesir banyak mengenal ulama-ulama di Al Azhar, menjadi pemandangan biasa ketika ulama-ulama Al Azhar berkunjung kepada pimpinan umat Kristiani dan mengucapkan Selamat Natal.

Jadi beliau sudah hafal dan tahu persis bagaimana ulama di Suriah memberikan fatwa bahwa mengucapkan selamat Natal itu boleh. 

Fatwa tersebut dituangkan kedalam buku dan diberikan pengantar oleh ulama-ulama besar seperti Yusuf al-Qaradawi yang ada di Syria bernama Mustafa Al Zarka'a, beliau berpendapat bahwa mengucapkan selamat natal merupakan bagian dari basa-basi dalam berhubungan baik  dengan orang lain.

Kesimpulan

Teman-teman dan saudara sekalian, dari bacaan di atas semestinya kita dapat mengambil kesimpulan masing-masing terkait kasus ini, kita boleh berpendapat namun juga penting memperhatikan beberapa hal-hal yang sesuai koridor.

Berdasarkan kutipan teks di atas bahwa dibolehkannya mengucapkan adalah sebab untuk menjaga toleransi antar umat beragama, namun di sini perlu diperhatikan juga bahwa apabila kita sebagai muslim yang taat dan tidak memiliki kepentingan untuk mengucapkan kalimat tersebut alangkah baiknya tak perlu mengucap.

Kita berikan contoh, ketika ada seorang muallaf kemudian mempunyai keluarga yang beragama kristiani, apakah muallaf tersebut harus acuh ketika natal tiba, bukankah lebih baik dia menghormati keluarganya dengan hanya sekedar mengucapkan selamat natal dengan dalih menjaga keharmonisan keluarga dengan catatan tetap mempertahankan aqidah dan tanpa perlu mengakui hal-hal yang tak perlu diakui.

Kasus tersebut sama halnya ketika terjadi pada seorang pemimpin yang menaungi banyak umat beragama dan tentunya dengan ucapan "Selamat Haru Natal" bertujuan untuk menjaga keharmonisan antar beragama.

Jika toleransi tidak kita jaga, akan banyak sekali permasalahan yang muncul ketika seorang muslim yang taat tidak memiliki hubungan dengan umat beragama lain. Terlebih lagi jika seorang pemimpin yang tidak percaya diri dan tidak lugas dengan ucapan "Selamat Hari Natal" kepada masyarakat yang dinaunginya.

Tentulah patut kita pertimbangkan hal semacam itu apakah diperbolehkan atau justru dilarang ?

Semoga kita menjadi bijak dalam bertindak, sebab mungkin kita tidak tahu alasan masing-masing orang. Lantas bagaimana menurut kalian?