Jangan Pernah Mencela dan Menyalahkan Hujan, Jika Berdampak Banjir, Mengapa Kita Tak Berfikir ?
Cari Berita

Advertisement

Jangan Pernah Mencela dan Menyalahkan Hujan, Jika Berdampak Banjir, Mengapa Kita Tak Berfikir ?

12/5/18



Jangan  mencaci hujan!
Bagaimana jika hujan enggan turun? Apa yang akan terjadi dengan makhluk di planet bumi.

Jangan mencaci hujan!
Bagaimana jika matahari terus menyinari. Lalu semua air menguap. Namun, ia tak pernah turun lagi ke bumi?

Jangan mencaci hujan!
Bagaimana jika hujan tidak ada? Anda mau menyiram semua tanaman di muka bumi?

Jangan mencaci hujan!
Karena tidak ada AC (Air Conditioner) berukuran besar untuk menyejukan bumi yang gersang.

Jangan mencaci hujan!
Anda mau menyiram semua tanah yang tandus?

Jangan mencaci hujan!
Anda mau menyirami seluruh lahan pertanian di muka bumi?

Jangan mencaci hujan!
Apakah anda bisa memberi minum seluruh makhluk hidup di muka bumi?

Jangan mencaci hujan!
Bukan salah hujan membuat bumi menjadi banjir. Tapi renungkanlah, siapa yang membuat resapan air hujan ke tanah menjadi terhambat?

Jangan Mencaci hujan!
Bukan air hujan yang membawa penyakit. Tapi, renungkanlah siapa yang merusak merusak kelestarian dan kesehatan lingkungan?

Tanpa hujan, kekeringan akan melanda dan tanaman akan mati. Jika Allah tak berkehendak, semua tak akan terjadi.

Sebaliknya, jika Allah berkendak, maka semua juga pasti akan terjadi. Lantas, mengapa rahmat ini bisa menjadi bencana bagi manusia? Itulah masalahnya. Mengapa di antara kita justru tak berfikir ini?

Allah pasti tidak salah menurunkan hujan, sementara jika turun hujan dan berdampak menjadi musibah, mengapa kita tak berpikir?

Muhasabah, Sabar dan mencegahnya

Musibah selalu datang dan pergi, itulah sunnah hidup. Ada yang menghadapi dan menyikapinya secara arif, sehingga musibah itu mendatangkan berbagai kebaikan. Tapi tidak sedikit yang keliru menyikapinya, sehingga musibah justru semakin memperpanjang penderitaan.

Bedanya, orang mukmin menghadapi musibah selalu dengan kaca-mata positif. Kita harus memandang musibah bukan sebagai kekejaman Allah Subhanahu wa Ta’ala, seakan-akan Allah tidak memiliki kasih saying pada manusia. Datangnya musibah, justru agar membuatnya manusia menjadi sadar serta menyesali kekhilafannya.

وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ

“Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezkinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku.” (QS: Al-Fajr [89]: 16)

Maka, marilah kita mekukan muhasabah (evaluasi diri) mengapa musibah itu terjadi? Adakah itu merupakan ujian yang diberikan Allah Subhanahu Wata’ala untuk kita sebagai peningkatan kualitas keimanan?

Atau musibah tersebut merupakan teguran atas kekeliruan kita dalam mengelola serta memanfaatkan sumber-sumber daya yang diamanahkan kepada kita?

Atau adakah kesalahan dan dosa-dosa lain yang kita lakukan kepada Allah? Jika benar karena dosa-dosa besar, mari kita bertobat.

Muhasabah ini sangat penting agar kita menyadari titik kesalahan dan kekeliruan kita. Sehingga kita dapat bertindak lebih baik di masa-masa selanjutnya.