Ketika Musibah Melanda, di Kelompok Manakah Kita?
Cari Berita

Advertisement

Ketika Musibah Melanda, di Kelompok Manakah Kita?

12/25/18

Dijelaskan dalam Firman Allah, “Katakanlah, ‘Yang akan menimpa kami hanyalah apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami.‘” (QS. at-Taubah [9]: 51) Dan, dalam membuat ketetapan, Allah memiliki kebebasan penuh.

Allah juga berfirman, “Sungguh, sesudah kesulitan itu ada kemudahan,” (QS. Alam Nasyrah [94]: 5). “Bersabarlah (hai Muhammad), dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan berkat pertolongan Allah,” (QS. an-Nahl [16]: 127). “Siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya,” (QS. an-Naml [27]: 62), dan, “Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung.” (QS. Ali `Imran [3]:173)

Kepastian-kepastian menyeluruh dalam agama tersebut ialah termasuk simpul keyakinan kepada Allah yang digenggam oleh kaum Mukmin saat mereka tertimpa musibah dan digelapkan oleh kesusahan.

Oleh karena itu, mereka mengetahui semua kejadian telah ditetapkan Allah sebelumnya, sehingga yang dapat mereka lakukan hanyalah pasrah kepada Allah SWT. Kekuasaan memilih hanya milik Allah, sehingga tak ada yang dapat mereka lakukan selain percaya bahwa pilihan-Nya pasti baik.

Tiada obat yang paling baik ketika bencana menimpa selain berupa kesabaran, sehingga mereka berobat dengan cara kembali kepadaNya. Allah pasti mengabulkan doa, sehingga mereka pun mengangkat telapak tangan memohon kepada Allah Subhanahu Wata'ala.



Dan, mereka tahu bahwa pertolongan Allah membuat mereka tidak butuh kepada pertolongan siapa pun selain-Nya, sehingga mereka bertawakal kepada-Nya. Obat musibah adalah husnuzhzhon, keyakinan yang tidak goyah oleh keputusasaan dan kehilangan harapan, kesabaran yang tidak kalah oleh kecemasan, optimisme yang tidak tersentuh kekecewaan, dan kepasrahan yang tidak ternodai penentangan.

Tiada yang lebih pantas mendapatkan kemenagan selain orang yang telah berjuang keras. Orang yang telah menghadapi pelbagai kesulitan dengan dingin hati adalah mereka yang pantas mendapatkan keamanan. Orang yang paling patut menerima kedekatan dengan Tuhan adalah orang yang telah menelan pelbagai kesedihan. Dan, orang yang paling berhak mendapatkan sambutan dari Tuhan adalah orang yang telah bersabar mengetuk pintu-Nya.

Segala sesuatu ada harganya, dan harga mutiara adalah kesulitan menyelam ke dasar lautan. Semua yang terjadi di dunia ini pasti ada nilainya, dan nilai kemenangan adalah kesakitan oleh luka-luka dalam perang kehidupan.

Segala sesuatu yang disukai ada pajaknya, dan pajak keberhasilan adalah air mata yang panas, darah yang tumpah, kelopak mata yang letih karena kekurangan tidur, badan yang lemah karena lelah bekerja, dan hati yang pedih karena banyak menderita.

Umur bencana lebih pendek daripada umur kesenangan, tapi pahalanya lebih besar daripada pahala kesehatan, pengalamannya lebih berharga daripada pengalaman kehidupan, dan kegunaannya lebih besar daripada kegunaan keselamatan. Terjadinya sebuah bencana pasti terdapat sebuah pelajaran, peringatan, serta kewaspadaan, tak tertinggal pula bersama kejadian itu juga terdapat tabungan, pujian, dan catatan sejarah yang dapat dikenang.