Presiden Jokowi Resmikan Museum Islam Indonesia, Begini Bentuk dan Isi Dari Meseum di Jombang
Cari Berita

Advertisement

Presiden Jokowi Resmikan Museum Islam Indonesia, Begini Bentuk dan Isi Dari Meseum di Jombang

12/20/18


"Dengan mengucapkan bismillah, saya resmikan museum ini,"

Keberadaan museum ini dianggap sebagai pengingat bagi perjuangan para pendahulu, ulama dan santri dalam memperjuangkan Islam dan kemerdekaan Indonesia.

Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy'ari (MINHA) yang berjarak 500 meter dari Pondok Pesantren Tebuireng itu diresmikan oleh Presiden Joko Widodo dalam kunjungannya ke beberapa Pondok Pesantren di Jombang.

Diantaranya Pondok Pesantren Darul Ulum, Peterongan Jombang, Pondok Pesantren Tebuireng, Pondok Pesantren Mambaul Maarif, Denanyar, serta Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras, Jombang.

Selain menandatangani prasasti sebagai tanda peresmian Museum, Jokowi melakukan pemotongan pita di pintu masuk Museum. Pemotongan pita tersebut sekaligus menandai dibukanya Museum untuk masyarakat umum.

Seperti Apakah Desain Museum Islam Indonesia KH. Hasyim Asy'ari



Salah satu tim desain interior Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy'ari (MINHA), Aing R. Nayadilaga, mengatakan bangunan atap museum merupakan simbol kiai dan santri. “Kalau dilihat dari luar, akan tampak dua atap utama yang saling menyatu dan salah satunya lebih rendah, seperti santri yang sungkem ke kiai,” kata dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Trisakti yang juga alumni ITB ini.

Jika dilihat dari luar, bangunan museum itu memiliki dua atap utama yang saling menumpuk dan salah satunya lebih rendah seperti orang yang sedang menunduk.

Apa Saja Isi Dari Museum Islam Indonesia KH. Hasyim Asy'ari

Masuk ke dalam ruang pameran museum terdapat beberapa koleksi benda atau artefak baik asli maupun duplikat diantaranya mangkok dari Tiongkok, nisan makam kuno, prasasti, mahkota, lontar, kitab suci kuno dan sebagainya. “Ada yang asli dan ada yang duplikat. Kalau yang asli pinjam dari museum lain,” kata salah satu petugas keamanan museum.

Selain koleksi artefak, museum menampilkan gambar dan narasi berbagai proses masuknya Islam di beberapa pulau di Indonesia sampai terbentuknya kerajaan-kerajaan Islam dari Aceh hingga Maluku.

Di dalam museum juga terpasang gambar tokoh-tokoh Islam era kemerdekaan hingga pasca kemerdekaan dari berbagai organisasi masyarakat baik Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Syarikat Islam, Masyumi, dan lain-lain.



Pengasuh Pesantren Tebuireng yang juga penggagas museum, KH Salahudin Wahid atau Gus Sholah, mengatakan museum islam ini bisa jadi pusat informasi mengenai proses masuknya Islam di nusantara hingga menjadi Indonesia sebagai negara dengan jumlah umat Islam terbesar di dunia. 

“Kita perlu memberikan informasi pada masyarakat bagaimana Islam itu datang ke nusantara dengan cara damai tanpa dukungan militer dan politik, semata-mata berdakwah dan berniaga,” kata Gus Sholah.