Takut Kafir, "Selamat Natal" Apakah Boleh Diucapkan Seorang Muslim?

Advertisement

Advertisement 970x90px

Takut Kafir, "Selamat Natal" Apakah Boleh Diucapkan Seorang Muslim?

Cang Karna
12/25/18



Apa hukumnya ketika seorang Muslim mengucapkan 'Selamat Hari Natal' ?

Pertanyaan tersebut yang selalu mencuat ketika perayaan dan momentum hari raya bagi umat Kristiani, termasuk di momentum Natal 2018.

Sebenarnya kasus ini sudah banyak diperdebatkan sebelumnya, banyak pendapat ulama yang membolehkan namun juga tak sedikit yang melarang bagi seorang muslim mengucapkan "Selamat Natal" tersebut.

Jika dikutip dari perbincangan oleh seorang tokoh ulama yakni Quraish Shihab dalam acara Shihab & Shihab. Menurut Quraish Shihab, permasalahan itu cuma terjadi di Indonesia.



"Di Timur Tengah sudah hal lazim masyarakat mengucapkan selamat hari raya bagi umat beragama lain", ungkap beliau.

"Lantas bagaimana jika ada kekhawatiran mengucapkan selamat hari raya dapat mengurangi iman dan takwa kita?" tanya Najwa Shihab.

Hal tersebut dijelaskan dalam video berikut:





Berbeda lagi  dengan penndapat Ustadz Abdul Shomad, yang mana beliau sangat tidak setuju apabila kalimat Selamat Natal diucapkan oleh seorang Muslim.



Ketika seorang Muslim mengucapkan Natal, hal itu berarti mengakui terhadap 3 Hal :

Pertama, mengakui Isa adalah anak Tuhan. Kedua, mengakui Isa lahir pada tanggal 25 Desember. Terakhir, mengakui Isa mati disalib.

"Ketiga-tiganya ini dibantah oleh Alquran," terang Ustaz Abdul Somad.


Profesor Muahmmad Quraish Shihab, ahli tafsir dan mantan Menteri Agama ternyata pernah mencurahkan pandangannya terkait ucapan 'Selamat Natal'.

Hal itu disampaikan Quraish Shihab pada tahun 2014 dalam program Tafsir Al Misbah di Metro TV, Ramadan 1435 Hijriah episode Surah Maryam Ayat 30-38.

Berikut ini transkrip penjelasannya:

Saya duga keras persoalan ini hanya di Indonesia. Saya lama di Mesir. Saya kenal sekali. Saya baca di koran, ulama-ulama Al Azhar berkunjung kepada pimpinan umat kristiani mengucapkan selamat Natal.

Saya tahu persis ada ulama besar di Suriah memberi fatwa bahwa itu BOLEH. Fatwanya itu berada dalam satu buku dan bukunya itu diberikan pengantar oleh ulama besar lainnya, Yusuf al-Qaradawi, yang di Syria namanya Mustafa Al Zarka’a. Ia mengatakan mengucapkan selamat Natal itu bagian dari basa-basi, hubungan baik.

Ini tidak mungkin menurut beliau, tidak mungkin teman-teman saya dari umat Kristiani datang mengucapkan selamat hari raya Idulfitri terus dilarang gitu.

Menurut beliau dalam bukunya yang ditulis bukan jawaban lisan ditulis, dia katakan, saya sekarang perlu menunjukkan kepada masyarakat dulu bahwa agama ini penuh toleransi. Kalau tidak, kita umat yang dituduh teroris. Itu pendapat.

Saya pernah menulis soal itu, walaupun banyak yang tidak setuju, saya katakan begini, saya ucapkan Natal itu artinya kelahiran. Nabi Isa mengucapkannya. Kalau kita baca ayat ini dan terjemahkan BOLEH atau tidak? Boleh. Ya toh? Boleh.

Jadi, kalau Anda mengucapkan selamat Natal, tapi keyakinan Anda bahwa Nabi Isa bukan Tuhan atau bukan anak Tuhan, maka tidak ada salahnya. Ucapkanlah selamat Natal dengan keyakinan seperti ini dan Anda kalau mengucapkannya sebagai muslim. Mengucapkan kepada umat kristiani yang paham, dia yakin bahwa anda tidak percaya.

Jadi yang dimaksud itu, seperti yang dimaksud tadi hanya basa-basi.

Saya tidak ingin berkata fatwa Majelis Ulama itu salah yang melarang, tetapi saya ingin tambahkan larangan itu terhadap orang awam yang tidak mengerti. Orang yang dikhawatirkan akidahnya rusak. Orang yang dikhawatirkan percaya bahwa Natal itu seperti sebagaimana kepercayaan umat kristen.

Untuk orang-orang yang paham, saya mengucapkan selamat Natal kepada teman-teman saya apakah pendeta. Dia yakin persis bahwa kepercayaan saya tidak seperti itu. Jadi, kita bisa mengucapkan.

Jadi ada yang berkata bahwa itu Anda bohong. Saya katakan agama membolehkan Anda mengucapkan suatu kata seperti apa yang anda yakini, tetapi memilih kata yang dipahami lain oleh mitra bicara Anda.

Saya beri contoh, Nabi Ibrahim dalam perjalanannya menuju suatu daerah menemukan atau mengetahui bahwa penguasa daerah itu mengambil perempuan yang cantik dengan syarat istri orang. Nah, dia punya penyakit jiwa. Dia ndak mau yang bukan istri orang.

Nabi Ibrahim ditahan sama istrinya Sarah. Ditanya, ini siapa? Nabi Ibrahim menjawab, ini saudaraku. Lepas.

Nabi Ibrahim tidak bohong. Maksudnya saudaraku seagama. Itu jalan. Jadi kita bisa saja. Kalau yang kita ucapkan kepadanya selamat Natal itu memahami Natal sesuai kepercatannya, saya mengucapkannya sesuai kepercayaan saya sehingga tidak bisa bertemu, tidak perlu bertengkar.

Jadi syaratnya BOLEH mengucapkannya asal akidah anda tidak ternodai. Itu dalam rangka basa-basi saja, seperti apa yang dikatakan ulama besar suriah itu.

Begitu juga dengan selamat ulangtahun, begitu juga dengan selamat tahun baru. Memang kalau kita merayakan tahun baru dengan foya-foya, itu yang terlarang foya-foyanya, bukan ucapan selamatnya kita kirim. Bahkan, ulama Mustafa Al Zarka’a berkata, ada orang yang menjual ucapan, kartu-kartu ucapan ini, itu BOLEH saja, tidak usah dilarang. Penggunanya keliru kalau dia melanggar tuntunan agama.

Ada orang sangat ketat dan khawatir. Itu kekhawtiran wajar kalau orang di kampung, tidak mengerti agama. Lantas ada yang mengakan kelahiran Isa itu sebagai anak Tuhan dan sebagainya, itu yang tidak boleh. Kalau akidah kita tetap lurus, itu tidak ada masalah.

Kita ucapkan selamat Natal, di ayat kita ini, sekian banyak ucapan selamat yang dutujukan para Nabi.

Kesimpulan

Teman-teman dan saudara sekalian, dari bacaan di atas semestinya kita dapat mengambil kesimpulan masing-masing terkait kasus ini, kita boleh berpendapat namun juga penting memperhatikan beberapa hal-hal yang sesuai koridor. Berdasarkan kutipan teks di atas bahwa dibolehkannya mengucapkan adalah sebab untuk menjaga toleransi antar umat beragama, namun di sini perlu diperhatikan juga bahwa apabila kita sebagai muslim yang taat dan tidak memiliki kepentingan untuk mengucapkan kalimat tersebut alangkah baiknya tak perlu mengucap.

Kita berikan contoh, ketika ada seorang muallaf kemudian mempunyai keluarga yang beragama kristiani, apakah muallaf tersebut harus acuh ketika natal tiba, bukankah lebih baik dia menghormati keluarganya dengan hanya sekedar mengucapkan selamat natal dengan dalih menjaga keharmonisan keluarga. Tentunya dengan tetap mempertahankan aqidahnya dan tanpa perlu mengakui hal-hal yang tak perlu diakui.

Kasus tersebut sama halnya ketika terjadi pada seorang pemimpin yang menaungi banyak umat beragama. Tentu kalimat "Selamat Natal" diucapkan dengan pertimbangan demi menjaga keharmonisan satu sama lain.

Permasalahan akan timbul ketika kita menjadi seorang muslim yang taat, tidak memiliki kepentingan, tidak memiliki teman kristiani atau bahkan keluarga kristiani, juga bukan seorang pemimpin yang menaungi banyak umat beragama pula, kemudian kita dengan PD dan santai mengumbar ucapan "Selamat Natal". Tentu teman-teman itu adalah sebuah kesia-siaan, dan perlu kita pertimbangkan apakah itu diperbolehkan. 

Semoga kita menjadi bijak dalam bertindak, sebab mungkin kita tidak tahu alasan masing-masing orang. 

Lantas bagaimana menurut kalian?