Bolehkah menolak Ajakan Berhubungan Intim Suami Ketika Istri Sedang Sakit ??
Cari Berita

Advertisement

Bolehkah menolak Ajakan Berhubungan Intim Suami Ketika Istri Sedang Sakit ??

2/1/19

Bolehkah menolak Ajakan Berhubungan Intim Suami Ketika Istri Sedang Sakit ??

Bolehkah menolak Ajakan Berhubungan Intim Suami Ketika Istri Sedang Sakit ??


Pernikahan merupakan salah satu jalan untuk menyempurnakan keimanan dan menjadi salah satu sunah Rasul yangmesti dijalani setiap umat Islam tanpater kecuali.

Membangun sebuah rumah tangga yang harmonis dan menjadi keluarga sakinah, mawaddah warahmahtentu menjadi idaman bagi semua pasangan suami istri.

Oleh sebab itu, tentu suami harus mengerti apa yang menjadi tanggung jawab dan haknya, begitupula sebaliknya sang istri juga harus memahami peran dan tanggung jawabnya dan kewajiban istri terhadap suami dalam rumah tangga. Sesuai dengan ajaran yang telah diwariskan Nabi Muhammad saw.

Salah satu cara membahagiakan suamiagar mendapat keluarga bahagia adalah dengan memenuhi dan melayani secara lahir dan batin. Ini merupakan kewajibanutama istri yang tidak boleh ditinggalkan.

Dari Thalqu bin Ali, Rasulullah sawbersabda:


إِذَا الرَّجُلُ دَعَا زَوْجَتَهُ فَلْتَأْتِهِ وَ إِنْ كَانَتْ عَلَى التَّنُّوْرِ


“Apabila seorang suami mengajak istrinya untuk berkumpul hendaknya wanita itu mendatanginya sekalipun dia berada di dapur.” (HR Tirmidzi, dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib)

Berdasarkan hadis tersebut dapat disimpulkan, bahwa istri wajib melayani suami jika suaminya meminta meskipun saat itu ia sedang ada pekerjaan lain. Hadis tersebut merupakan anjuran untuk lebih memprioritaskan ajakan suami untukberhubungan intim dibanding pekerjaan lainnya.

Hadis lainnya, dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda:


لاَ يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُوْمَ وَ زَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ


“Tidak halal bagi wanita untuk berpuasa (sunah) sedangkan suaminya berada di rumah, kecuali dengan izinnya.” (HR Bukhari)

Masih dari Abu Hurairah, Rasulullah sawbersabda:


إِذَا دَعَا الرَّجُلُ اِمْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ غَضْبَانَ عَلَيْهَا لَعَنَتْهَا اَلْمَلآئِكَةُ حَتىَّ تُصْبِحَ


“Apabila suami mengajak istrinya ke tempat tidurnya lalu istri enggan sehingga suami marah pada malam harinya, malaikat melaknat sang istri sampai waktu subuh.” (HR Bukhari)

Menolak permintaan bersetubuh oleh suami tentu dapat menyebabkan suami menjadi kecewa dan menjadi timbulnya konflik dalam keluarga. Sehingga hal ini akan berpengaruh terhadap keharmonisan rumah tangga. Pada akhirnya jika hal itu sering terulang dan menjadi kebiasaan, maka akan menimbulkan kebencian suami.

Meskipun hal ini sepele, namun menolak ajakan suami untuk berhubungan intim akan menimbulkan dosa besar terhadap istri. Artinya, melayani suami selain sebagai tanggung jawab juga merupakan salah satu ibadah yang mengantarkan istri ke surga.

akan tetapi jika istri sakit, sehingga merasa berat melayani suaminya, apakah si istri berdosa jika menolak ajakan suaminya?

Pada dasarnya, istri wajib memenuhi ajakan suami untuk berhubungan intim. Namun jika sedang sakit atau sedang mengalami gangguan psikis lainnya yang mengakibatkan berat melayani suaminya, maka suami tidak boleh memaksanya untuk berhubungan intim. Tapi, masih ada cara lain agar kebutuhan batin suami terpenuhi, yaitu dengan cara mencium, membelai, atau lainnya. Selama hal itu tidak membahayakan terhadap si istri..

Nabi saw bersabda:


لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ


“Tidak boleh melakukan sesuatu yang berbahaya atau membahayakan (orang lain).” (HR Ahmad, Malik dan Ibnu Majah)

Allah swt juga berfirman dalam surah Annisa’ ayat 19:


وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ


“Dan bergaullah dengan mereka secara patut.”

Kesimpulannya, sikap terbaik suami adalah berlaku lemah lembut terhadap istrinya. Tidak memaksa si istri melakukan sesuatu yang berat untuk dilaksanakannya.

maka dari itu suami tidak boleh memaksakan syahwatnya tanpa memperhatikan kondisi istrinya. Maka jika istri terlihat merasa enggan melayaninya karena sakit atau meriang, hendaknya suami mencari tahu kondisi istrinya, bersabar dan berusaha menghilangkan kekurangan yang ada pada istrinya. Wallahu a’lam